Daughters of Poseidon Final Story

nyimasRDA - daughter of poseidon final

 

Daughters of Poseidon – Final Story

Author: nyimasRDA

Rating: G

Genre: fantasi

Length: chapter

Cast:

Park Jiyeon – Cherise

Kim Myungsoo – Arion

Kim Hyuna – Chaera

Cho Kyuhyun – Demon

Lee Jieun – Adara

Other

Note: FF ini real hasil pemikiranku. Don’t be a silent readers and don’t bashing! Maaf untuk persamaan karakter atau cerita, sungguh itu tidak disengaja. FF ini terlahir karena ketertarikan ku dengan Mitologi Yunani juga novel Percy Jackson.

-oOo-

Poseidon? Penguasa lautan? Tiga diantara dewa tertua? Apa kau fikir mereka ada? Jangan bodoh! – Park Jiyeon.

Seharusnya aku tidak pernah terlahir ke dunia ini. Aku sungguh ingin mati, sungguh! – Kim Hyuna.

-oOo-

Baca lebih lanjut

Daughters of Poseidon Story Six

nyimasRDA - daughter of poseidon 5

Daughters of Poseidon – Story Six

Author: nyimasRDA

Rating: G

Genre: fantasi

Length: chapter

Cast:

Park Jiyeon – Cherise

Kim Myungsoo – Arion

Kim Hyuna – Chaera

Cho Kyuhyun – Demon

Lee Jieun – Adara

Other

Note: FF ini real hasil pemikiranku. Don’t be a silent readers and don’t bashing! Maaf untuk persamaan karakter atau cerita, sungguh itu tidak disengaja. FF ini terlahir karena ketertarikan ku dengan Mitologi Yunani juga novel Percy Jackson.

 

Hallo semua, aku kembali lebih cepat dari biasanya. Aku berusaha menebus penantian kalian yang lalu dengan membawa FF ini lebih cepat. Semoga kalian suka dengan part ini. Maaf jika banyak nama-nama yang membuat kalian semua bingung. Karena part ini memang puncak dari FF DOP. Semoga cerita yang aku tulis mampu meningkatkan imajinasi kalian! Dan, aku juga mau berterima kasih pada para pembaca yang setia baik yang komen maupun tidak dan maaf untuk yang selalu minta momment myungyeon, FF ini bukan romance, jadi mian, momment mereka memang sedikit bahkan bisa dibilang tidak ada L aku akan buat FF lain untuk couple itu, jadi harap bersabar ya!

-oOo-

Poseidon? Penguasa lautan? Tiga diantara dewa tertua? Apa kau fikir mereka ada? Jangan bodoh! – Park Jiyeon.

Seharusnya aku tidak pernah terlahir ke dunia ini. Aku sungguh ingin mati, sungguh! – Kim Hyuna.

-oOo-

Baca lebih lanjut

Daughters of Poseidon Story Five

nyimasRDA - daughter of poseidon 3

 

nyimasRDA present

Daughters Of Poseidon Story Five

 

Rating: G

Genre: fantasi

Length: chapter

Cast:

Park Jiyeon – Cherise

Kim Myungsoo – Arion

Kim Hyuna – Chaera

Cho Kyuhyun – Demon

Lee Jieun – Adara

Other

Note: FF ini real hasil pemikiranku. Don’t be a silent readers and don’t bashing! Maaf untuk persamaan karakter atau cerita, sungguh itu tidak disengaja. FF ini terlahir karena ketertarikan ku dengan Mitologi Yunani juga novel Percy Jackson.

Hallo, sebelumnya aku mau minta maaf yang sebesarnya pada semua pembaca, karena aku lama banget update kelanjutan FF ini. Kesehatanku benar-benar tidak memungkinkan dan baru mampu menyelesaikan segini. Semoga kalian suka dengan FF ini, dan maaf jika part Jiyeon masih sangat kurang. Part selanjutnya akan banyak part jiyeonnya!

-oOo-

Poseidon? Penguasa lautan? Tiga diantara dewa tertua? Apa kau fikir mereka ada? Jangan bodoh! – Park Jiyeon.

Seharusnya aku tidak pernah terlahir ke dunia ini. Aku sungguh ingin mati, sungguh! – Kim Hyuna.

-oOo-

 

Awan gelap menyelimuti seisi dunia, halilintar-halilintar bersahutan menggelegar di Langit hitam pekat, badai di lautan membuat para nelayan enggan melaut untuk mencari nafkah sementara Kyuhyun kehilangan jejak Hyuna. Sudah seminggu sejak Kyuhyun merasakan kehadiran makhluk kegelapan Hyuna menghilang, Jiyeon juga mulai merasakan keanehan pada dirinya. Kekuatannya mengendalikan air mulai terlihat dan Jiyeon muak dengannya. Berkali-kali Jiyeon membuat rumahnya penuh dengan air dan membuat Ha Neul juga Jieun dan Myungsoo kalang kabut dEommaatnya.

Pagi ini Jiyeon mulai dihadapkan dengan kedatangan makhluk-makhluk aneh yang berkeliaran disekitarnya, ia bahkan bertemu kembali dengan rusa jantan yang dulu pernah hadir dalam mimpinya. Namun rusa itu tak bicara, ia hanya memandang Jiyeon kemudian menghilang. Ha Neul yang tak tega dengan keadaan putrinya memutuskan untuk memberitahu yang sebenarnya pada Jiyeon, ditemani Myungsoo, Jieun juga Chaerin.

Chaerin, Myungsoo juga Jieun sampai di kediaman Ha Neul. Ketiganya menyusuri jalan setapak kemudian menekan bell yang terletak dekat pintu.

“Apa kau fikir Jiyeon bisa menerima semua penjelasan kita?”tanya Jieun mulai khawatir.

“Entahlah, tapi ku harap dia tak menganggap kita gila.”jawab Myungsoo.

-oOo-

 

“Kau anak Poseidon, Jiyeon-ah, itulah kenapa kau selalu bermasalah dengan air.”

“Kau hanya perlu belajar bagaimana mengendalikan kekuatanmu, maka semua akan baik-baik saja.”

“Ku ditakdirkan untuk menjadi penyelamat dunia, maka lakukanlah tugasmu.”

Kalimat-kalimat itu terus terngiang ditelinga Jiyeon kala ia berusaha memejamkan matanya. Percakapannya dengan Chaerin juga Ha Neul membuatnya benar-benar harus memutar otak agar dapat mengerti apa yang kedua wanita cantik itu bicarakan. Sama seperti dirinya, kini Myungsoo juga Jieun sendiri tengah bingung dengan apa yang mereka sampaikan.

“Apa kau fikir Jiyeon menganggap kita gila?”tanya Myungsoo yang sejak lima belas menit lalu duduk di depan kamar Jiyeon.

“Molla, kemungkinan dia yang akan menjadi gila.”jawab Jieun lalu memasukan segulung kimbab kedalam mulutnya.

“Yya! Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu terhadap saudarimu. Aish jinjja.”Myungsoo menjitak kepala Jieun.

“Kau fikir aku tidak hampir gila saat kau beritahu kalau aku adalah putri Aphrodite?”

Myungsoo hanya tersenyum menanggapi apa yang Jieun katakan, ia masih ingat betul bagaimana ekspresi yang diberikan Jieun lantaran ia memberitahu bahwa Jieun adalah putri tunggal Aphrodite, mata gadis cantik itu seperti ingin keluar dari tempatnya.

“Apa seharusnya kita tidak perlu memberitahu Jiyeon dulu tentang masalah ini?”sesal Ha Neul yang kini sedang berhadapan dengan Chaerin.

“Kita harus cepat memberitahu Jiyeon masalah Ayah kandungnya, Ha Neul-ssi, Jiyeon berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.”

“Kau benar, tapi, Jiyeon terlihat benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi.”Ha Neul menghembuskan nafasnya berat.

“Geure, dia pasti terkejut, tapi percayalah, semua akan baik-baik saja.”Chaerin menggenggam tangan Ha Neul pelan.

-oOo-

 

Angin kencang menerbangkan helaian anak-anak rambut yang tersisa diwajah cantik Tae Hee, wanita cantik itu menelungkupkan kepalanya, berusaha berlindung dari balik lutut sementara dirinya masih betah berdiam diri di depan balkon apartment yang sudah dua tahun ia tempati. Fikirannya kembali menerawang, kembali mengingat bagaimana pertemuannya dengan Seung Won, laki-laki yang selalu mengejarnya sejak mereka duduk dibangku sekolah.

Flashback on

“Tae Hee-ssi.”panggil Seung Won saat Kim Tae Hee telah menyelesaikan sesi pemotretan untuk sebuah majalah fashion terkemuka di Seoul.

Tae Hee memandang terkejut wajah Seung Won yang tak berubah sedikitpun, dengan kikuk ia membalas sapaan Seung Won kemudian berjalan menjauhi pria itu.

“Ada yang ingin aku tanyakan padamu, nona Kim.”

“Maaf, aku tidak memiliki waktu hari ini, kau bisa datang menemui manajerku jika ingin melakukan wawancara.”jawab Tae Hee gugup.

“Apa kau tahu dimana keberadaan Hyuna?”

Mendengar nama seorang gadis yang ia cintai membuat Tae Hee menghentikan langkahnya, tubuhnya menegang sementara jantungnya berdetak kencang. Bagaimana bisa Seung Won mengetahui nama anak yang selama ini ia sembunyikan.

“Museun suriya jigeum?”tanya Tae Hee saat ia sudah berhadapan dengan Seung Won.

“Kau jelas tahu apa yang aku maksud, Tae Hee-ssi.”

“Joesonghabnida, saat ini aku benar-benar sibuk. Kita bisa bicara nanti, jika kau sudah membuat janji dengan manajerku.”

“Hyuna menghilang, sudah seminggu ia tidak bisa dihubungi.”

“Maaf, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, aku sungguh tidak mengenal Hyuna.”

“Kau tidak perlu berpura-pura, kau tahu dengan baik apa yang aku maksud, Tae Hee.”

Tae Hee tak menjawab perkataan Seung Won, keringat dingin mengucur disekujur tubuhnya, deru nafas berhembus kencang dari hidung wanita cantik itu.

“Putrimu, Hyuna, dia menghilang.”

“Michyeoss-eo? Apa yang kau maksud dengan purtiku? Apa kau fikir aku wanita yang sudah memiliki anak?”bentak Tae Hee membuat beberapa kru menoleh kearah mereka.

“Aku sungguh tak tahu kenapa kau membuang dan tak mengakui Hyuna, tapi sungguh, apa kau tak pernah merasa khawatir dengan keadaannya? Apa kau tidak memikirkan tentang keselamatannya? Kau sungguh tahu siapa dia sebenarnya, Tae Hee. Kau tahu, pacarmu yang dulu, dia mendatangiku dan mengatakan semuanya, dia mengatakan siapa sebenarnya dia dan aku yakin kau akan sangat terkejut jika mengetahui kebenarannya.”

Seung Won terus berbicara, tanpa memperdulikan ekspresi yang ditunjukkan oleh Tae Hee.

“Yya, apa kau sungguh gila? Sunbae, apa kau fikir aku akan percaya dengan yang kau katakan? Tidak mungkin aku memiliki hubungan dengan dewa. Yya, itu sungguh tidak masuk akal.”

“Aku juga tak tahu harus percaya atau tidak, yang jelas, mantan kekasihmu itu menemuiku dan memintaku untuk menemukan Hyuna secepatnya, kalau tidak, sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.”

Flashback off

 

“Sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.”

“Hyuna, Kim Hyuna, dimana kau sekarang? Apa Eomma salah sudah menitipkanmu dipanti asuhan? Aku sungguh bukan Eomma yang baik.”

-oOo-

 

“Ker – dewa kematian –, apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan padamu?”ujar seseorang dengan wajah liciknya.

“Sudah, your majesty. Semua sudah kami lakukan sesuai dengan yang anda perintahkan. Lady Chaera sudah kami tangkap dan kami persiapkan untuk melakukan penyerangan.”jawab Ker membungkukkan tubuhnya.

“Siapkan semuanya sebaik mungkin, aku tidak ingin rencanaku ini gagal.”

“Baik, my Lord.”

-oOo-

 

Badai dilautan semakin menggila, sementara Jiyeon, Jieun, Myungsoo juga Kyuhyun tengah berdiri berhadapan, menghadap ke laut, tempat kerajaan Poseidon berada.

“Apa kalian benar-benar berfikir aku adalah penyelamat dunia? Bagaimana jika justru sebaliknya?”tanya Jiyeon sambil terus memandangi lautan, tak ada rasa takut dalam dirinya, melihat lautan mengamuk, Jiyeon tak merakan dirinya takut sedikitpun.

“Ayahku.. maksudku tuan Hades mengatakan kalau kau adalah Cherise, penyelamat dunia.”ujar Kyuhyun.

“Sungguh, semua yang Eomma, bibi Chaerin, Jieun juga Myungsoo katakan benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku putri dari Poseidon..”

“Jiyeon-ah, kami tahu kau masih terkejut, tapi tenanglah, kau pasti bisa melalui ini semua. Kita harus melawan Hyuna Sunbae.”

“Jieun benar, kita harus melakukan cara untuk mengalahkan Hyuna.”

“Keunde, apa kita harus membunuh Hyuna? Maksudku, dia Kakak tiriku, bagaimana bisa aku membunuhnya..”

Myungsoo tersenyum, ia tahu, bahwa gadis yang mampu menggetarkan hatinya itu tidak mungkin sanggup menghabisi orang lain, terlebih itu adalah kakaknya sendiri.

“Ku fikir, kita hanya perlu melumpuhkan kekuatannya, tak perlu menghabisi nyawanya, aku tahu, akan ada yang menangis jika hal itu terjadi.”Jieun melirik kearah Kyuhyun yang sejak tadi sibuk melacak keberadaan Hyuna.

“Seonsaengnim, apa kami bisa percaya denganmu?”tanya Myungsoo tiba-tiba.

“Museun suriya?”tanya Kyuhyun memandang lurus pada Myungsoo.

“Aku, tidak bermaksud menuduh, keunde, aku rasa semua ini ada hubungannya dengan pada makhluk kegelapan dan yah, kau tahu kan, makhluk kegelapan berada dipihak siapa?”jelas Myungsoo hati-hati.

“Yya, Hades tidak sejahat yang kau fikirkan. Bukan karena dia tinggal di dunia bawah dan selalu bergaul dengan kegelapan dia jadi..”

“Arraso, aku hanya takut…”

Belum sempat Myungsoo menyelesaikan kalimatnya, seekor burung hantu terbang mendekati Kyuhyun dan detik berikutnya Kyuhyun menunjukkan ekspresi yang sangat terkejut.

“Seonsaengnim ada apa?”

“Ker.. para dewa kematian melakukan pemberontakan. Hades dihianati.”

-oOo-

 

Kyuhyun, Jiyeon, Jieun juga Myungsoo sampai di dalam istana Hades. Setelah berusaha membujuk Kharon untuk membawa mereka menyebrangi sungai pembalasan, akhirnya keempat manusia setengah dewa ini berhasil memasuki istana megah milik hades.

“Woah, ini benar-benar hebat.”ujar Myungsoo tak sanggup menyembunyikan keterkejutannya.

“Demon, kau datang.”ujar Erinyes yang menyambut keempatnya dengan wajah tampak yang sangat gusar.

“Dimana Hades? Bagaimana bisa Ker memberontak?”tanya Kyuhyun yang berjalan melewati Cerberus yang bersuara lucu.

Jieun sampai harus menahan kuat dirinya untuk tidak mengusap puncak kepala anjing berkepala tiga itu.

“Entahlah, kurasa, ini ada kaitannya dengan Chaera, ada pemberontak di Olympus. Beberapa Ker memberontak dan menghancurkan sebagian kecil dunia bawah, mereka juga mencabut nyawa orang-orang yang belum seharusnya mati dan membawa jiwa mereka pergi.”jelas Erinyes.

“Bagaimana bisa ini terjadi..”lirih Myungsoo.

“Mengerikan, sungguh mengerikan.”Jieun ikut berkomentar.

“Jieun-ya, apa menurutmu akan terjadi perang?”tanya Jiyeon menggenggam erat lengan Jieun.

Keempatnya sudah sampai di dalam istana Hades, ditemani Erinyes yang sejak tadi menunduk, tak berani memandang wajah Hades yang menunjukkan kemurkaan yang luar biasa.

“My Lord, Demon sudah sampai.”ujar Erinyes membuat Hades berbalik.

Jiyeon, Jieun dan Myungsoo tersentak dengan penampilan Hades. Wajarny yang sangat tampan dengan pakaian kerajaan yang serba hitam juga tangan kanannya yang memegang helm kegelapan sungguh berada diluar ekspetasi ketiganya. Jika selama ini mereka selalu memandang Hades dengan pembawaan yang menyeramkan, sungguh saat ini justru mereka melihat dewa tertampan yang pernah mereka temui – karena mereka baru bertemu Hades dengan wujud dewa.

Kyuhyun membungkukkan tubuhnya, memberi hormat kepada Ayah kandungnya itu diikuti dengan ketiga muridnya itu kemudian memandang Hades dengan wajah cemas.

“Kau membawa tamu, putraku, Demon?”tanya Hades pelan.

Wajah tampan juga kesan wibawa yang sejak tadi ditunjukkan oleh Hades perlahan menghilang kala suaranya terdengar membuat Jieun memundurkan kakinya untuk bersembunyi dibelakang Myungsoo sementara tangan kiri namja bermata sendu itu sudah menggenggam tangan Jiyeon.

“Mereka memaksa..”

“Ah, haruskah aku menyiapkan pesta penyambutan untuk ketiga keponakanku?”tanya Hades dengan senyum menakutkan.

“Tidak perlu, paman, ah maksudku Tuan.”ujar Jieun, gadis berkuncir kuda ini terus merutuki kebodohannya.

“Paman? Kau bisa memanggilku paman jika kau mau, putri Aphrodite.”

Bam!

Bersamaan dengan bunyi berdebam dikediaman Hades, munculah seorang wanita dengan gaun putih gading yang panjang menjuntai. Wajahnya yang begitu cantik diselimuti kepanikan yang luar biasa, dibelakangnya ikut hadir dua orang pria yang juga berpakaian khas Yunani.

“Hentikan permainan bodohmu, Hades!”bentak si wanita cantik. “Jangan bawa putriku dalam permainan bodohmu ini!”

“Aphrodite, apa yang membawamu sampai ke dunia bawah ini, hmm? Bersama Poseidon?”tanya Hades dengan suara yang menjijikan.

“Aphrodite? Jadi, kau Eommaku?”tanya Jieun membuat wanita itu berbalik.

Betapa terkejutnya Jieun saat melihat rupa wanita dihadapannya. Ia bahkan membuka mulutnya lebar-lebar lantaran terkejut dengan apa yang ditangkap iris coklatnya.

“Park Bom Seonsaengnim?!”pekik Jieun.

-oOo-

 

Jiyeon juga Poseidon duduk bersisihan ditepi sungai Han, menatap air sungai yang begitu tenang. Jiyeon menundukkan kepalanya, rasa haru yang luar biasa menghimpit hatinya, memaksa airmatanya yang sejak satu jam tadi ia tahan perlahan turun melalui sudut mata coklatnya.

“Kau baik-baik saja, Cherise?”tanya Poseidon membuka suara.

Jiyeon hanya menganggukan kepalanya, tak mengeluarkan sedikitpun suara untuk menjawab pertanyaan Ayahnya.

“Maafkan Ayah baru bisa menemuimu.”

Deru angin berhembus bersama kemilau jingga yang memantul di dasar air, membuat semakin sendu suasana antara keduanya. Jiyeon terus mengusap airmatanya, berusaha menahan diri untuk tidak terisak di depan Ayah yang sangat ia rindukan.

“Ayah sungguh bodoh, Ayah melakukan kesalahan sampai membawamu masuk ke dalam masalah ini. Harusnya Ayah bisa mencari dan menjaga Chaera, tanpa membuatmu terluka. Maafkan Ayah.”

“Ayah tak perlu meminta maaf seperti itu. semua ini sudah kehendak Tuhan.”jawab Jiyeon akhirnya.

“Cherise, ah maksudku Jiyeon. Ayah berjanji, apapun yang terjadi, Ayah akan selalu menjagamu.”

Jiyeon tersenyum, kemudian ia menyandarkan kepalanya dipundak bidang Poseidon sementara Poseidon membelai lembut rambut panjang putri bungsu nya itu.

“Ingin pergi melihat kerajaanku?”tanya Poseidon.

“Bolehkah?”

“Tentu, kau tentu boleh melihatnya, sayang.”

“Keunde Ayah, aku ingin melihatnya bersama Hyuna Eonnie. Bisakah aku melihatnya bersama Hyuna Eonnie?”

Poseidon tersenyum, ia begitu terharu dengan apa yang dikatakan oleh Jiyeon. Putrinya itu begitu baik hati, ia bahkan memanggil Hyuna dengan panggilan Kakak, sedangkan Hyuna sudah menyerangnya.

“Kau bisa mengunjungi kerajaan Ayah kapanpun kau mau, Cherise, Ayah akan menunggumu.”

“Ayah, bisakah Ayah katakan bagaimana caraku menemukan Hyuna Eonnie?”

“Kakakmu, dia sedang ditawan oleh kawanan Ker yang memberontak. Ada seseorang yang membuat para Ker menghianati tuan mereka, dan Ayah yakin, akan semakin banyak makhluk kegelapan yang mengikuti jejak para Ker.”

“Menghianati tuan mereka? Maksud Ayah menghianati tuan Hades? Jadi, bukan Hades yang menculik Hyuna?”

Poseidon tersenyum, ia menatap wajah serius Jiyeon. Mata indah juga wajah Jiyeon mengingatkan dirinya akan Tae Hee, Eomma Hyuna. Ia sendiri juga bingung, kenapa Jiyeon justru lebih mirip dengan Tae Hee, bukan Ha Neul.

“Kenapa kau berfikir Hades yang melakukannya?”

“Entahlah, aku hanya menebak. Ker adalah pelayannya yang paling setia..”

“Yang paling setia juga bisa berkhianat, sayang.”

“Kalau bukan Hades, lalu siapa yang membuat Ker berani mengkhianati Hades.”lirih Jiyeon pelan.

“Kami, para dewa sedang mencari tahu yang terjadi. Hermes juga Apollo sedang mencarinya sedangkan Athena sedang menyusun rencana untuk melawan Ker, setidaknya, kita harus menyiapkan pasukan.”

“Apa harus ada perang? Aku tidak ingin sampai ada yang terluka..”

“Kita semua menginginkan hal itu, Cherise, semoga saja, tak ada yang harus terluka.”

Sementara Jiyeon juga Poseidon sedang berbincang, seseorang sedang memperhatikan mereka dengan ekspresi wajah marah, kilatan emosi terpancar jelas di mata salah satu dewa itu.

-oOo-

 

Aphrodite atau yang biasa dikenal sebagai Park Bom oleh Jieun kini sedang duduk berdua dengan putri kesayangannya, ia terus menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah membohongi Jieun hampir satu tahun ini.

“Jadi, Seonsaengnim adalah Eommaku?”tanya Jieun sedikit ragu, ia tak tahu harus memanggil Bom dengan sebutan apa, Eomma, Seonsaengnim atau Dewi Aphrodite.

“Kau bisa memanggilku Eomma jika kau mau, Jieun.”

Jieun hanya terdiam, ia tak tahu harus mengatakan apalagi. Ia sungguh bersyukur dapat melihat siapa Eomma kandungnya, tapi juga kesal lantaran selama ini Eomma nya terus berada disekitarnya.

“Apa kau marah pada Eomma? Kau membenci Eomma?”

Jieun menggelengkan kepalanya, ia sungguh tidak membenci Bom, ia hanya sedikit kesal karena tidak mengenali Eomma kandungnya.

“Maaf jika selama ini Eomma merahasiakan identitas Eomma darimu.”

“Eomma pasti punya alasan kenapa merahasiakannya dari aku juga Appa.”

“Jadi, bagaimana keadaanmu juga Dong Wook?”

“Appa selalu mencari Eomma, ia bahkan sering kali bermimpi dan memanggil “Jenny”.”

Bom tersenyum, ada sedikit kebahagiaan yang ia rasakan lantaran Dong Wook masih mengingatnya. Yah, Bom memang dikenal sebagai Jenny Park oleh Dong Wook, mahasiswi pertukaran pelajar dari USA.

“Aku sungguh tidak bermaksud membuat Ayah mu menjadi seperti itu.”sesal Bom.

“Eomma merasa bersalah?”tanya Jieun yang dijawab anggukan kepala oleh Bom. “Eomma tidak perlu merasa bersalah, justru seharusnya Eomma senang karena Appa masih setia dan masih mencintai Eomma.”

“Terima kasih Adara, Eomma sangat senang kau mau memaafkan dan menerima kesalahan Eomma. Eomma sungguh bersalah karena meninggalkanmu, seharusnya Eomma memberanikan diri untuk menentang Zeus, harusnya Eomma mengikuti jejak Hestia untuk hidup bersama manusia dan melepaskan kehidupan Eomma sebagai Dewi.”isak tangis Bom mulai terdengar.

“Eomma tidak perlu menyalahkan diri Eomma seperti itu. mengetahui kalau Eomma terus mengawasi dan menjagaku saja, itu sudah membuat diriku sangat bahagia. Appa juga pasti senang jika ia tahu Jenny yang ia kenal hidup dengan sangat baik dan tetap cantik seperti dulu.”

“Tolong jaga selalu ayahmu, katakan padanya jika Eomma sangat mencintainya.”

“Apa Eomma tidak ingin bertemu dengan Appa? Appa pasti akan merasa senang karena Eomma menemuinya.”

“Apa Eomma tidak egois jika bertemu dengannya? Setelah menghilang selama ini?”

“Eomma bisa bertemu sebagai Park Bom, setidaknya Eomma bisa berada di dekat Appa walau sebentar.”ujar Jieun dengan senyum yang mengembang.

-oOo-

 

Pencarian terhadap Hyuna terus dilakukan. Kyuhyun sibuk melacak keberadaan Hyuna yang tercium olehnya beberapa hari lalu berada di sekitar gedung sekolah yang tak terpakai lantaran terbakar puluhan tahun lalu sementara Apollo juga Hermes sibuk mencari siapa-siapa saja yang sudah bergabung dengan Ker. Sementara Kyuhyun, Apollo juga Hermes sibuk mencari Hyuna, Jiyeon, kini sibuk melatih pengendalian airnya, bersama dengan Myungsoo juga Jieun.

Sedikit demi sedikit Jiyeon sudah mampu menarik dan melemparkan air atau membuat bongkahan es mencair, hal yang berbeda dari kekuatan Hyuna. Jika Hyuna mengubah air menjadi es, Jiyeon justru mengubah es menjadi air. Myungsoo dan Jieun juga melatih kemampuan pengendalian mereka. Apollo berusaha mengendalikan udara, karena musik yang ia keluarkan mengalir dan menyebar melalui udara sedangkan Jieun sibuk dengan panahan yang terus ia genggam.

Hampir dua minggu sejak menghilangnya Hyuna, siang itu tiba-tiba Kyuhyun berlari menemui Jiyeon, Jieun juga Myungsoo yang sedang berlatih di padang rumput – dekat kebun – milik Hades yang selalu dijaga oleh Askalafos, burung hantu yang selalu membawa kabar untuk Kyuhyun. Melihat ada sosok seseorang mendekat membuat ketiga anak dewa yang sedang berlatih itu bersiap siaga. Jieun mulai membidik sosok Kyuhyun yang terhalang kabut, sementara Myungsoo dengan belati beracun pemberian Chaerin sedangkan Jiyeon sudah bersiap dengan sebotol air untuk menyerang tamu yang datang. Dan tanpa di duga, Kyuhyun diserang oleh ketiganya. Beruntung karena Kyuhyun adalah anak dewa tertua, serangan dari bocah-bocah itu tak lantas mengenainya begitu saja, hanya lengan kiri Kyuhyun yang terkena siraman dari botol yang dipegang Jiyeon.

“Yya! Apa yang kalian lakukan, eoh!”bentak Kyuhyun.

“Seonsaengnim!”teriak Jiyeon, Myungsoo juga Jieun bersamaan.

“Joesonghabnida Seonsaengnim, kami tidak tahu kalau itu anda.”ujar Jiyeon dengan wajah merasa bersalah.

“Lalu, kau fikir siapa, eoh? Para Ker?”

“Mian, kami pikir kau adalah mata-mata dari para penghianat.”

“Sudahlah, aku membawa kabar.”

“Kabar buruk atau baik?”tanya Myungsoo.

“Apa akan ada kabar baik saat seperti ini?”sindir Kyuhyun.

“Lalu, kabar apa yang anda bawa?”

“Aku sudah tahu siapa penghinat di kerajaan.”

Tak ada satupun yang menjawab, mereka semua menunggu sebuah nama yang kemungkinan keluar dari bibir Kyuhyun.

“Amfitrit, istri Poseidon, dewi laut, ia mengkhianati Dewa Olympus.”

TBC

Daughters of Poseidon Story Four

nyimasRDA - daughter of poseidon 6

 

Daughters of Poseidon – Story Four

intro123

Author: nyimasRDA

Rating: G

Genre: fantasi

Length: chapter

Cast:

Park Jiyeon – Cherise

Kim Myungsoo – Arion

Kim Hyuna – Chaera

Cho Kyuhyun – Demon

Lee Jieun – Adara

Other

Note: FF ini real hasil pemikiranku. Don’t be a silent readers and don’t bashing! Maaf untuk persamaan karakter atau cerita, sungguh itu tidak disengaja. FF ini terlahir karena ketertarikan ku dengan Mitologi Yunani juga novel Percy Jackson.

Hallo semua readers setia FF-ku! Aku balik lagi dengan part yang (semoga) lebih menegangkan.

Sebelumnya aku mau minta maaf, karena penggunaan bahasa yang sedikit kasar disini.

Tapi, semoga itu semua yang mengurangi keinginan kalian untuk baca FF DOP ya!

Semoga kalian semua suka dan jangan lupa tinggalkan jejak. *bow*

-oOo-

Poseidon? Penguasa lautan? Tiga diantara dewa tertua? Apa kau fikir mereka ada? Jangan bodoh! – Park Jiyeon.

Seharusnya aku tidak pernah terlahir ke dunia ini. Aku sungguh ingin mati, sungguh! – Kim Hyuna.

-oOo-

 

Badai hebat terjadi sepanjang malam setelah insiden penyerangan yang dilakukan Hyuna terhadap adiknya, Jiyeon. Guntur-guntur meraung hebat dan saling bersahutan serta ratusan cahaya kilat menghiasi Langit malam. Sementara itu Myungsoo dan Jieun sedang duduk bersisihan, menatap Langit malam yang gelap mencekam.

“Menyeramkan sekali.”lirih Jieun memeluk lututnya sendiri.

“Aku rasa Zeus benar-benar marah. Kau tahu, menurutku mereka merasakan penyerangan yang dilakukan Hyuna.”ujar Myungsoo.

Keduanya kini menatap Langit malam dari atap rumah Myungsoo. Chaerin memutuskan untuk mengantar Jiyeon pulang ke rumahnya bersama Jiyong, sementara anak-anak diminta untuk tetap dirumah. Wanita bermata elang sengaja mengambil langkah ini untuk menghindarkan kedua dari mereka dari marabahaya yang mungkin saja mengintai.

Sejak insiden penyerangan itu terjadi, Myungsoo juga Jieun mulai sering merasakan mahluk asing disekitar mereka, karena itulah Chaerin khawatir dengan keadaan keduanya. Ia memutuskan untuk mengantar Jiyeon dengan pengamanan dari jubah hitam pemberian Apollo, atau yang Chaerin kenal sebagai G-Dragon.

“Kalian tunggu disini, biar Eomma yang mengantar Jiyeon pulang.”ujar Chaerin saat mereka bersiap untuk keluar.

“Tapi..”

“Tenanglah, Eomma ada jubah pemberian Appa, kami pasti akan baik-baik saja.”Chaerin berusaha keras meyakinkan anak laki-lakinya yang sangat keras kepala itu.

Chaerin sangat paham dengan apa yang akan menimpa keduanya jika mereka tetap pergi mengantar Jiyeon. Para perusak yang ingin memanfaatkan kekuatan Hyuna akan datang dan menyerang mereka. Setidaknya, jika tetap dirumah, keduanya akan tetap aman.

“Apa tidak masalah pergi dengan Jiyong?”

“Tidak, dia tidak akan bertanya yang macam-macam. Dia hanya tahu kalau Jiyeon sedang sakit, jaga dirimu selama Eomma pergi, ya.”

“Berhati-hatilah.”Myungsoo mengingatkan Chaerin.

Sementara keduanya sedang menatap Langit, kini di gunung Olympus justru sedang terjadi perdebatan sengit antara tiga dewa tertua juga dewa-dewi lainnya. Mereka sibuk dan saling menyalahkan.

“Ini sebuah kesalahan! Kau tidak seharusnya memiliki anak dari seorang manusia.”hardik Hades sambil menunjuk Poseidon tepat dihidungnya.

“Oh, jadi aku berbuat kesalahan? Lalu bagaimana denganmu, saudaraku Hades? Kau memiliki anak dengan seorang jalang!”sanggah Poseidon cepat, membuat para dewa terkejut dengan apa yang Poseidon katakan.

“Itu terjadi karena tidak disengaja.”Hades berusaha membela dirinya.

“Tidak disangaja? Menurutku itu lebih dari sekedar kebodohan, Hades. Kau yang tidak biasa minum minuman beralkohol, justru menghabiskan berkendi-kendi sake, sehingga melakukan hal bodoh itu.”

“Ah, jadi kau memiliki anak karen itu? Jangan katakan kalau kau iri padaku karena aku bercinta dengan wanita China itu, Poseidon.”

“Iri terhadap sesuatu yang menjijikan seperti itu, kau memiliki anak diluar nikah, Hades. Kau fikir aku pantas merasa iri dengan hal kotor seperti itu?”

“Kau juga sama saja! Kau juga memiliki Chaera karena hubungan diluar nikah yang kau jalin dengan si artis sombong itu.”

“Itu karena aku mencintainya. Dia yang tidak ingin aku nikahi..”

“Lalu bagaimana dengan si perancang terkenal Ha Neul? Kau juga mencintainya? Baru satu tahun setelah Kim Tae-Hee memiliki anak, Ha Neul juga melahirkan seorang putri. Kau mencintai dua wanita sekaligus? Oh, kau memang seorang playboy.”singgung Hera, ratu dewi sekaligus istri Zeus. “Apa kau sudah meniru kelakuan suamiku?”

“Hentikan Hera, kita berkumpul tidak untuk membahas masalah yang lalu.”kini Zeus mulai angkat bicara, ia memandang istrinya dengan tatapan tajam.

“Poseidon, kita semua tahu ini sebuah kesalahan. Kesalahan karena kau memiliki dua putri dari bangsa manusia, bangsa yang seharusnya kita lindungi. Kau melanggar perjanjian yang telah kita buat.”

“Yah Yah Yah, Poseidon memang salah!”ejek Hades kemudian.

“Diam kau tuan Neraka! Kau sama saja denganku! Kau, Aphrodite, Apollo, kalian semua sama!”

“Oh, jangan sama kan aku dengan kalian, setidaknya aku merawat anakku dengan baik.”ujar Hades dengan bangga.

“Kau mengambilnya secara paksa dari tangan Sandara, Hades. Kau tidak merawatnya, kau justru melatih dia untuk menjadi seorang pembunuh.”Aphrodite yang merasa sedikit tersinggung dengan apa yang dikatakan Hades kini mulai bicara.

“Jaga ucapanmu dewi tebar pesona!”umpat Hades.

“Cukup! Aku bilang cukup!”bentak Zeus bersamaan dengan petir menggelegar disetiap penjuru dunia.

Bentakkan dari Zeus lantas membuat para dewa dan dewi yang sejak tadi sibuk berdebat berhenti seketika.

“Sekarang, apa yang akan kau perbuat untuk menebus kesalahanmu, Poseidon?”tanya Zeus menatap tajam Poseidon.

“Kau ingin melimpahkan semua kesalahan ini padaku?”tanya Poseidon yang sejak tadi selalu dipojokkan.

“Tentu! Kau fikir siapa lagi yang patut dipersalahkan? Para wanita yang tergila padamu itu? bercanda!”kekeh Hades.

“Lalu bagaimana dengan kutukan yang dewa tertinggi kita lakukan?”tanya Poseidon mencoba mengingatkan.

Para dewa dan dewi yang mendatangi perdebatan itu langsung berbisik dan berseru pelan, mereka semua terkejut dengan apa yang Poseidon katakan, kemudian mengingat apa yang Zeus lakukan tujuh belas tahun lalu.

“Jika kau tidak mengutuknya, ia tidak mungkin punya kekuatan sebesar itu. Tidak mungkin putri kecilku menjadi seorang yang akan menghancurkan dunia. Ingat, kau turut andil dalam masalah ini, Zeus.”

Zeus terdiam, ia kembali teringat dengan berita kelahiran seorang anak setengah dewa di salah Satu kota di dunia. Malam itu Zeus mendapat kabar dari saudaranya, Hermes, bahwa seorang putri kecil keturunan dewa tertua telah lahir. Zeus marah besar dengan apa yang ia dengar, dan dengan emosi yang membuncah lantaran kakaknya, Poseidon melanggar janji yang telah mereka buat, ia langsung turun ke bumi dan melihat bagaimana rupa keponakannya. Ia berniat membunuh keturunan Poseidon saat itu juga, namun keinginannya terhenti saat melihat bagaimana rupa si gadis yang baru lahir tersebut. Ia tak bisa menghabisi nyawa Hyuna kecil, karena itu ia justru mengutuk Hyuna. Itulah alasan kenapa Hyuna memiliki sedikit kekuatannya. Zeus tak mengutuk Hyuna dengan sungguh-sungguh, hal itu justru membuatnya diberkati dengan sebagian kekuatan Zeus.

“Seharusnya kau membunuh gadis kecil itu, tuan Zeus, bukan mengirimkan seorang manusia untuk menjaganya.”ledek Hades.

“Hentikan semua perdebatan kalian, sebaiknya saat ini kita jaga kesehatan Cherise dan perketan penjagaan Chaera.”Athena, si dewi kebijaksanaan.

“Tenanglah, Cherise selamat.”ujar suara laki-laki yang tiba-tiba saja berdiri di tengah mereka.

“Apollo! Bagaimana kau tahu?”tanya Poseidon.

“Aku baru mengantarnya, bersama CL.”ujar Apollo yang masih mengingat panggilan sayangnya untuk Chaerin, dulu.

“Kau masih menemui manusia itu?!”pekik Zeus membuat Langit kembali berpetir.

“Tenanglah, Zeus! Aku merahasiakan jati diriku dengan baik.”

“Beraninya, kau!”

“Aphrodite! Dia juga menemui anaknya!”ujar Hades terus menunjuk dewi kecantikkan itu.

“Apa kalian sudah gila?!”bentak Zeus, ia benar-benar kesal dengan apa yang dilakukan saudara-saudaranya itu.

“Ini tidak penting, adikku. Saat ini yang paling penting adalah keadaan kedua anakku.”ujar Poseidon.

“Aku tak tahu keadaan si perusak, maaf. Aku kehilangan jejaknya, aku sudah berusaha mencarinya juga meminta bantuan burung merpati peliharaanku untuk mencarinya, tapi mereka tidak menemukannya.”

“Bagaimana jika dia masih emosi? Bagaimana jika dia menyerang manusia lain..”lirih Artemis

“Tenanglah, seseorang menjaga Chaera kita dengan sangat baik.”ujar Hades menyeringai.

-oOo-

 

Jiyeon meringkuk lemas dibalik selimut merahnya, menatap lurus dinding kamar bercat putih gading itu kemudian mendesah pelan. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi beberapa jam lalu, ia tahu penyerangan yang dilakukan wanita yang baru ia temui itu. Yang kini memenuhi pikirannya adalah, bagaimana bisa seorang wanita berusia belasan tahun menghancurkan akuarium besar yang letaknya jauh dari tempat mereka berdiri. Bagaimana dirinya terhipnotis dengan sensasi saat ia memandang wajah di gadis berambut merah itu dan mengapa Myungsoo juga Jieun menyembunyikan semua itu darinya? Begitu banyak pikiran yang ia rasakan.

“Cherise, anakku..”

Jiyeon mendengar dengan jelas suara seorang pria yang sering ia dengar, gadis cantik ini langsung mendudukkan tubuhnya dan memandang sekeliling.

“Siapa kau?”tanya Jiyeon lirih.

“Maafkan aku jika membuatmu harus berada diposisi ini.”

“Jangan hanya bicara, tunjukkan dirimu.”

“Maaf, Appa tidak bisa.”

“Appa? Apa kau benar-benar Appaku?”

“Ya, anakku. Aku Appamu.”

“Appa..”isak Jiyeon pelan.

“Jaga dirimu baik-baik, sayang. Percayalah, Appa akan selalu melindungimu. Appa akan melakukan apapun yang Appa bisa untuk menjagamu, juga Chaera.”

“Jangan banyak bicara! Tunjukkan dirimu! Dasar Appa bodoh!”tangis Jiyeon pecah bersama gemuruh hebat di Langit sana.

“Akan tiba saatnya kau melihat Appa, sayang. Untuk sekarang, Appa minta kau menjaga dirimu. Appa sayang padamu.”

Bersamaan dengan itu, Jiyeon merasakan tubuhnya dipeluk hangat oleh semilir angin malam yang sesungguhnya dapat membekukan tubuh. Jiyeon memeluk lututnya sendiri dan menangis dalam diam. Ia tak pernah merasa sehangat itu sebelumnya, ia tak pernah merasakan ketenangan seperti malam ini.

-oOo-

 

Kyuhyun berjalan malas dilorong penghubung antara dunia bawah yang merupakan tempat tinggal Hades dan dunia atas tempat tinggal para manusia. Telinganya dapat mendengar dengan jelas segala rintihan serta jeritan dari ujung lorong, tempat parah Roh dikumpukan.

“Hai Kharon.”sapa Kyuhyun pada makhluk berjubah hitam dan bertubuh kurus yang kini berdiri dihadapannya.

“Ah, Demon – Nama lain Kyuhyun –, apa kau dipanggil Hades?”

“Jika tidak dipanggil si gila itu, untuk apa aku kesini.”jawab Kyuhyun malas lalu kakinya menaiki perahu yang sejak tadi menjadi tempat Kharon berpijak.

Kharon adalah makhluk yang selalu membantu Hades selama ribuan tahun lalu. Ia selalu berdiri diatas perahu yang akan mengantarkan roh manusia dari tepi sungai menuju tempat mereka seharusnya berada. Kharon berteman baik dengan Kyuhyun, mengingat ia adalah putra tunggal Hades dari bangsa manusia, Kyuhyun juga sangat sering keluar masuk dunia bawah tanah untuk menemui Appanya itu. namun demikian, Kharon selalu meminta upah setiap kali Kyuhyun menyebrang.

“Kenapa tidak jalan?”tanya Kyuhyun yang kini menatap Kharon sinis.

“Kau belum memberikanku sekeping obolos – koin Yunani, Demon.”

“Hey! Aku ini anak majikanmu, kau tahu. Lagupula aku tak punya koin obolos lagi. Hades mengambil seluruhnya dariku.”

“Kalau begitu kau tidak bisa menyebrang dan menemui tuan Hades.”

“Tapi aku harus menemuinya!”

“Kau harus membayar, sama seperti roh-roh yang lainnya.”ujar Kharon sambil melirik kearah roh-roh dibelakang Kyuhyun.

“Bercanda.. aku ini manusia. Aku tidak perlu membayar seperti mereka.”

“Maaf Demon, aku tidak bisa membawamu  jika kau tidak memberikanku sekeping obolos.”

“Aku bersumpah akan mengadukan apa yang kau lakukan ini pada Hades! Kau akan menjadi makanan Cerberus – anjing kepala tiga peliharan Hades – jika tidak membawaku menemui Hades!”bentak Kyuhyun yang kini sudah kehabisan sabar.

Mendengar nama Cerberus disebut membuat Kharon bergidik ngeri, dengan terpaksa ia mengangkut Kyuhyun untuk menyebrangi sungai kematian bersama roh-roh lain. Sementara Kyuhyun hanya menatap sinis makhluk-makhluk tembus pandang dihadapannya.

-oOo-

 

Suara-suara merdu terdengar melalui telinga Jiyeon, gadis berparas cantik itu mulai menggeliatkan tubuhnya dan perlahan matanya mulai terbuka. Jiyeon tersenyum memandang Langit-Langit kamarnya. Matanya yang berwarna coklat terang menatap jam dinding berbentuk mahkota berwarna pink di sudut kamar, ini masih terlalu pagi untuk bersiap ke sekolah, jadi Jiyeon memutuskan untuk membuatkan Ha Neul sarapan.

Langkah-langkah kaki Jiyeon tak terdengar saat ia menyusuri anak-anak tangga dibawah kakinya. Gadis dengan rambut pirang ini mengulurkan tangannya dan membuatkan sarapan untuk sang Eomma tercinta. Lima belas menit kemudian Jiyeon selesai dengan masakannya dan kini di meja makan sudah tersedia dua gelas susu coklat, roti panggang juga telur mata sapi yang selalu menjadi menu sarapan keduanya. Baru Jiyeon berniat untuk membangunkan Ha Neul, wanita cantik itu kini sudah berdiri di hadapan Jiyeon.

“Eomma sudah bangun?”tanya Jiyeon yang menatap Ha Neul hangat.

“Hmm, kau membuat sarapan? Kenapa tidak tunggu Eomma.”

“Eomma pasti lelah seharian kemarin bekerja, jadi biar aku yang membuatkan Eomma sarapan, ya?”

“Ah, kau memang putri Eomma yang paling baik. Jadi, ceritakan pada Eomma bagaimana hari pertamamu di sekolah. Menyenangkan?”tanya Ha Neul.

Jiyeon terdiam, rasanya ia ingin sekali mengatakan pada Ha Neul tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tentang pertemuannya dengan Hyuna juga tentang penyerangan yang dilakukan gadis berambut merah itu.

“Tidak ada sesuatu yang terjadi, semua berjalan dengan baik. Kau tidak perlu khawatir.”jawab Jiyeon dengan senyum khasnya.

Ha Neul hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum mendengar jawaban Jiyeon. Ada kelegaan yang ia rasakan.

“Maafkan aku, Eomma. Aku tidak mungkin mengatakan tentang apa yang terjadi. Jika kau tahu, kau pasti akan membawaku kembali ke inggris. Jika itu terjadi, bagaimana bisa aku menemukan Chaera dan menyelamatkan dunia seperti apa yang Appa inginkan.”bisik Jiyeon dalam hatinya.

Tingtong

Jiyeon mendongakkan kepalanya saat mendengar bunyi bell rumahnya berdering dengan langkah kecil gadis ini menyusuri rumahnya dan membukakan pintu untuk tamu yang datang.

“Jieun-ya! Bagaimana bisa kau kesini?”tanya Jiyeon terkejut dengan kedatangan Jiyeon yang begitu mendadak.

“Aku mengkhawatirkan keadaan teman baru ku. Kau tidak apa-apa?”jawab Jieun dengan senyum mengembang diwajahnya.

“Jangan terlalu keras, Eomma bisa mendengar apa yang kau katakan.”

“Eoh, kau tidak memberitahu Eomma mu perihal kau yang jatuh pingsan?”

Jiyeon menggelengkan kepalanya, membuat Jieun menganggukan kepalanya beberapa kali.

“Ayo masuk Jieun-ya, kuperkenalkan dengan Eomma.”tangan mungil Jiyeon menarik lembut Jieun, membuat gadis itu kini sudah berdiri di depan Haenul.

“Hallo, perkenalkan, saya Jieun, Lee Jieun. Senang bertemu anda.”Jieun memperkenalkan dirinya pada Ha Neul.

Ha Neul terdiam, ia bahkan menjatuhkan potongan roti panggang dari tangannya. Matanya mengerjap beberapa kali, tidak percaya dengan apa yang matanya lihat saat ini.

“Eomma, kau baik-baik saja?”Jiyeon memandang Ha Neul dengan bingung, begitu pula dengan Jieun.

Ha Neul menganggukan kepalanya, berharap ia bisa memberikan jawaban yang diinginkan oleh putri tunggalnya.

“Sungguh? Kalau begitu Eomma temani Jieun sebentar, ya. Aku akan bersiap-siap dulu.”lanjut Jiyeon lalu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.

Merasakan hal yang aneh pada Ha Neul membuat Jieun kini berdiri dengan kikuk.

“Bibi, ada apa? Apa ada yang aneh pada diriku?”tanya Jieun pelan.

“Lee Jieun? Apa kau Putri dari Aphrodite?”

Jieun memandang terkejut bukan main saat identitas aslinya terbongkar oleh seorang wanita paruh baya yang kini sedang berdiri di depannya.

“Bagaimana bisa Ibu Jiyeon mengetahui identitasku?”bisik Jieun pelan.

“Keponakanku, maksudku kau keponakan suamiku.”

“Tunggu, maksud bibi?”

“Kau pasti tahu apa yang aku maksud, Jieun-ssi.”

Baru Jieun ingin mengajukan pertanyaan lain, iris matanya menangkap sosok cantik Jiyeon yang kini sedang menuruni anak tangga.’

“Tolong rahasiakan identitasku dari Jiyeon, belum saatnya ia tahu tentang siapa dirinya juga Ayah nya.”Jieun memandang penuh harap pada Ha Neul.

“Tentu, sampai saatnya tiba, aku akan merahasiakan identitasmu.”

“Terima kasih.”

-oOo-

 

Jiyeon memandang lurus sosok gadis yang kemarin menyerangnya. Saat ini Hyuna sedang berdiri berhadapan dengan seorang laki-laki yang Jiyeon kenal. Wajah Hyuna tetap datar seperti biasa, ia tak memandang wajah laki-laki itu, sementara lawan bicaranya terus memohon untuk Hyuna pulang.

“Paman, bukankah sudah aku katakan, aku tidak ingin pulang.”ujar Hyuna untuk ketujuh kalinya.

“Tapi kau harus pulang, sayang. Aku mengkhawatirkanmu.”

“Tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri.”ujar Hyuna lalu meninggalkan Seung Won.

Seung Won memandang sedih sosok Hyuna yang kini telah memasuki halaman sekolah, sementara itu Jiyeon berjalan mendekati pria berwajah tampan itu.

“Paman.”panggil Jiyeon menarik perhatian Seung Won.

“Jiyeon-ssi.”

“Sedang apa paman disini?”tanya Jiyeon.

“Aku, aku ada urusan.”

“Paman mengenal si rambut merah?”

“Hyuna? Maksudmu Hyuna? Kau mengenalnya?”

“Ah jadi namanya Hyuna?”ujar Jiyeon dalam hatinya. “Hmm, aku mengenalnya. Dia Sunbae ku, paman.”

“Benarkah? Kalau begitu, aku bisa tenang. Jiyeon-ssi, bisakah kau menjadi mata-mataku?”

“Maaf?”

“Tolong awasi gerak-gerik Hyuna, bisakah?”

“Ah, ya. Aku akan mengawasi Hyuna-ssi. Tapi, apa hubungan paman dengan Hyuna?”

Seung Won tersenyum “Ia anakku.”

-oOo-

 

Jiyeon melangkahkan kakinya menyusuri taman Seoul International High School dengan sangat hati-hati. Saat ini ia sedang menjalankan apa yang dikatakan oleh Seung Won, mengawasi Hyuna. Dibelakang Jiyeon berdiri seorang pria dengan mata teduh yang tak memalingkan perhatiannya barang sedetikpun dari tubuh tinggi Jiyeon.

“Berhenti mengikutiku.”ujar Hyuna dingin.

“Apa, siapa yang mengikutimu? Aku..”

“Hentikan tindakan bodohmu itu. Apa perkataanku kemarin kurang jelas? Aku membencimu.”ujar Hyuna lalu berjalan meninggalkan Jiyeon.

“Kenapa? Kenapa kau membenciku?”

“Kau tidak perlu tahu alasannya.”

“Aku perlu tahu! Aku harus tahu alasan kau membenciku, sampai-sampai kau menyerangku!”

Hyuna menghentikan langkahnya. Ia mengertukan keningnya kemudian berpikir keras.

“Menyerang?”tanya Hyuna bingung.

“Eoh, kau menyerangku kemarin! Kau membuat akuarium di perpustakaan hancur dan kau menggunakan airnya untuk menyerangku.”

“Omong kosong! Bagaimana bisa aku melakukan itu?”

“Kau tidak ingat?”

“Aku bahkan tidak ingin mengingat pertemuan kita!”

Hyuna berlari meninggalkan Jiyeon yang berdiri bingung memandang kepergiannya. Seribu pertanyaan menghampiri benak Jiyeon, bagaimana bisa Hyuna melupakan penyerangan yang ia lakukan dan bagaimana bisa ia begitu membenci Jiyeon. Tanpa Jiyeon sadari di ujung taman, ada seorang pria berkacamata tebal memperhatikan dia.

 

Cho Kyuhyun pov

Aku terus memperhatikan setiap pergerakkan Hyuna juga si anak baru Jiyeon. Memandang mereka dari sudut taman sambil terus mengingat apa yang Hades katakan padaku. Fikiranku mulai melambung pada kejadian yang menimpa dua gadis ini. Bagaimana Hyuna menyerang Jiyeon yang diyakini adalah si penyelamat Dunia. Bahkan si raja neraka itupun mengakui bahwa anak baru ini adalah Cherise, putri Poseidon.

Malam itu Hades memanggilku, ia mengirimkan Askalafos – penjaga kebun Hades yang dikutuk menjadi burung hantu – kesayangannya untuk menyampaikan pesan padaku dan dengan berat hati aku harus kembali melangkahkan kaki ku memasuki gua Neraka, tempat ia tinggal.

 

Flashback on

“Hai Cerberus, apa kabar?”tanyaku setelah turun dari perahu Kharon.

Tangan kananku terulur untuk mengusap salah satu kepala makhluk dihadapanku.

“Hades ada di dalam?”

Guk!

Jawab salah satu kepala Cerberus. Aku menganggukkan kepalaku dan kembali berjalan memasuki Istana Hades. Hey! Jangan berfikir kalau istana Ayahku ini adalah istana yang suram seperti yang digambarkan oleh manusia-manusia itu, ya. Demi Kronos, Istana Hades sungguh mewah dan jauh dari kata menakutkan. Istana ini terbuat dari emas murni. Aku melangkahkan kakiku memasuki Istana mewah milik Hades, semakin masuk ke dalam semakin terdengar jelas raungan dari roh-roh manusia yang meminta pengampunan.

“Demon, sedang apa kau disini?”tanya Erinyes saat melihatku melangkah masuk. Biar kuberitahu, Erinyes ini merupakan Dewi pembalasan yang merupakan kaki tangan Hades.

“Ah, hay Erinyes, senang juga bertemu denganmu.”ujarku sedikit berbasa-basi, wanita ini masih juga tidak berubah, tak pernah berbasa-basi. “Aku harus menemui, yah, kau tahu siapa.”

“Ah, Hades ada di singgahsananya, kau bisa langsung kesana. Kau mau minum? Aku bisa meminta para Ker untuk membawakanmu minuman.”

“Oh tidak, terima kasih. Kau tidak perlu meminta para Dewa kematian itu untuk membawakan segelas darah segar untukku.”

“Oh ayolah, Ker tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku akan meminta mereka membawakanmu jus tomat, kau mau?”

“Well, jika itu memang jus tomat.”

“Akan kupastikan mereka tidak berbuat nakal lagi padamu Yang Mulia Demon.”

Berbuat nakal? Apa menurutnya memberikan segelas darah pada anak manusia, ehm maksudku anak setengah manusia ini merupakan tindakan nakal? Apa mereka fikir aku ini seorang vampire atau apa? Dasar sial. Selesai berbincang dengan Erinyes, aku kembali melangkahkan kakiku menemui si tuan dari segala tuan dunia bawah, Hades.

Hades berdiri dengan tangan yang ia letakkan dibelakang punggungnya, menatap ribuan roh yang kini sedang merintih kesakitan karena jilatan api neraka.

“Ehem.”aku berdeham pelan, berusaha menarik perhatian pria yang usianya sudah ribuan tahun ini.

Hades menoleh, manatapku dengan tatapan datarnya namun senyuman mengembang diwajanya. Sungguh, Hades tidak terlalu menyeramkan seperti yang biasa anak-anak khayalkan. Ia bahkan cenderung tampan, sangat tampan. Hidungnya mancung dengan mata yang besar juga rambut coklat yang menghiasi kepalanya. Hades tidak memiliki mahkota kerajaan seperti Raja pada umumnya, ia hanya memiliki sebuah helm kegelapan.

“Demon, kau sudah sampai.”tanya Hades berbasa-basi.

“Well, seperti yang kau lihat.”jawabku malas. “Jadi apa yang Tuan Hades inginkan dari hamba yang hanya setengah dewa ini?”

“Oh Demon, kau terlalu kaku. Apa hidup di dunia manusia yang membuatmu seperti ini?”tanya Hades lagi. “Jadi, laporkan padaku mengenai insiden penyerangan yang dilakukan Chaera.”titahnya kemudian.

Aku menarik nafasku lalu menceritakan dengan jelas segala yang terjadi antara dua anak Poseidon, sementara Hades hanya menganggukan kepalanya. Ia terlihat seolah sangat menikmati segala cerita yang aku berikan sambil beberapa kali tersenyum licik.

“Jadi, apa yang kau lakukan setelahnya?”

Deg!

“Membawa Chaera lari.”jawabku gugup, aku tahu ia akan mengatakan ini. Dia pasti akan menanyakan apa yang aku lakukan pada Chaera.

“Hanya itu?”

“Kau mau aku melakukan apa?”aku berusaha memberanikan diriku untuk menjawab apa yang ia katakan, namun aku tak berani menjawabnya.

“Memeluk dan menghilangkan ingatannya, mungkin? Demon, dia sepupu mu, kau harus melakukan hal yang membuatnya nyaman, bukan?”senyum licik kembali terukir diwajah Hades.

Oh ayolah, aku harusnya ingat kalau Hades akan tahu apa yang aku lakukan pada Chaera. Entah mengapa setiap kali berhadapan dengan gadis itu aku selalu merasa bodoh setengah mati. Dari yang kehilangan kendari sampai si Arion dapat memasuki fikiranku dan sekarang? Aku lupa kalau Hades juga bisa membaca fikiranku, bahkan ia pasti sudah tahu apa yang terjadi sebelum hal itu benar-benar terjadi.

“Kau menyukainya?”

“Apa?”

“Kau menyukai Chaera.”

“Aku? Tidak, itu tidak benar.”

“Aku tahu kau menyukainya, Demon, terlihat jelas dimatamu.”

“Aku bilang aku tidak menyukainya, Hades.”

“Lalu kenapa kau menghapus ingatannya? Tidak ingin dia terluka atau apa?”

“Hanya.. Aku hanya tidak ingin mengacaukan rencanamu, bukankah kau yang mengatakan kalau aku harus mengawasi dan menjaga Chaera? Menurutku apa yang aku lakukan adalah salah satu dari tindakan ‘menjaga’ gadis itu.”

“Well, aku harap kau tidak berbohong padaku, Demon. Kau tahu, aku dewa kematian, aku dewa yang menurut pada manusia adalah dewa terkejam. Aku anak tertua dari Cronos, aku dapat tahu isi hatimu tanpa membacanya lebih dulu. Jangan pernah berfikir kau dapat membohongiku. Atau aku akan menghancurkan semuanya.”

Aku hanya menganggukan kepalaku ragu.

Flashback off

Cho Kyuhyun pov end

 

“Aku akan menghancurkan semuanya.”

Kata-kata itu terus terngiang dalam kepala Kyuhyun. Ia tahu benar bahwa Hades tidak mungkin main-main dengan ancamannya. Ia akan melakukan apa saja untuk melakukan apa yang dia inginkan. Meski dia harus membunuh Chaera, putri adiknya sendiri, meski akan ada peperangan di gunung olympus, meski ia harus melenyapkan anak kandungnya.

-oOo-

 

From: Baby Apollo

Kau dimana? Kita harus bertemu, ada yang ingin aku bicarakan.

 

Jieun memandang layar ponselnya yang kini menampilkan pesan singkat dari Myungsoo sementara Jiyeon yang duduk di sampingnya terus melahap kimbab yang ia pesan di kantin beberapa waktu lalu.

“Jiyeon-ah.”panggil Jieun pelan membuat gadis dihadapannya mendongakkan kepalanya. “Bisa aku tinggal sebentar? Aku perlu ke toilet.”

“Mau aku temani?”

“Tidak, tidak perlu. Kau lanjutkan saja makan siangmu. Aku tidak akan lama.”ujar Jieun lalu meninggalkan Jiyeon sendiri.

Jiyeon memandang berkeliling atap gedung sekolahan yang ia jadikan tempat menyantap makan siangnya bersama Jieun beberapa waktu lalu. Pemandangan indah menyapa iris mata Jiyeon. Suara-suara burung pipit terdengar merdu di telinga Jiyeon, membuat senyum terukir diwajah cantiknya. Namun senyumnya segera hilang saat bola matanya bertemu pandang dengan Hyuna.

“Sunbae-nim.”panggil Jiyeon.

“Kau ingin tahu kenapa aku membencimu?”tanya Hyuna pelan, matanya yang berwarna coklat tiba-tiba berubah warna menjadi hitam kelam. “Karena kau mirip Ibu, dan aku benci itu.”ujar Hyuna keras lalu berlari meninggalkan Jiyeon bersama petir yang menggelegar di angkasa.

Jiyeon terduduk mendengar apa yang dikatakan Hyuna, fikirannya kosong..

“Sedang apa disini?”tanya sebuah suara mengejutkan Jiyeon.

Jiyeon membalikkan tubuhnya, memandang seorang pria dengan pakaian serba hitam juga kacamata tebal yang bertengger di hidung mancungnya.

“Apa kau tak tahu kalau siswa dilarang memasuki atap sekolah?”tanya pria itu lagi.

“Ah, maaf. Aku hanya menghabiskan makan siangku disini.”

“Cepat kembali ke kelas jika makanmu sudah selesai.”

“Baik, Cho Seonsaengnim.”

“Apa ini, bukankah tadi aku merasakan aura makhluk hitam disini? Lalu kenapa justru Cherise yang ada?”lirih Kyuhyun setelah meninggalkan Jiyeon sendiri.

Kyuhyun berlari keras berusaha menemukan Hyuna, ia harus melaksanakan apa yang Hades perintahkan, ia harus menjaga dan mengawasi Chaera, namun hari ini tidak menemukan sosok gadis itu. segala fikiran buruk menghampiri Kyuhyun, mungkinkah mahluk-mahluk kegelapan sudah menemukan sosok Chaera dan berbagai macam pemikiran lainnya.

“Cho Seonsaengnim!”panggil sebuah suara membuat langkah Kyuhyun terhenti.

Kyuhyun menoleh dan mendapati Myungsoo juga Jieun berlari kearahnya.

“Ada yang ingin kami bicarakan.”ujar Myungsoo kemudian.

“Sedang apa kalian disini? Kenapa kalian tidak menjaga Cherise?!”bentak Kyuhyun membuat Jieun juga Myungsoo terkejut.

“Ada apa, apa yang kau bicarakan Seonsaengnim?”

“Bukankah kalian diminta Apollo juga istrinya untuk menjaga Cherise? Kenapa kalian justru membiarkan dia sendiri.”

Mendengar ayahnya disebut lantas membuat Myungsoo terkejut. Dengan sekali tarikkan ia membawa Kyuhyun menjauh dari lorong sekolah, menuju gudang gelap bersama Jieun dibelakangnya.

“Seonsaengnim sebenarnya siapa anda?”tanya Myungsoo.

“Itu tidak penting sekarang. Kalian harus pergi menemui Cherise, jaga dia jangan sampai mahluk kegelapan bertemu dengannya.”

“Katakan siapa kau sebenarnya!”bentak Myungsoo.

“Aku Demon, putra tunggal Dewa Hades. Sekarang cari Cherise dan jaga dia. Aku akan mencari Chaera.”

Myungsoo melepaskan kepalan tangannya dari kerah baju Kyuhyun, keterkejutan bukan main ia dan Jieun rasakan. Bagaimana bisa seorang putra Hades berada disekitar mereka tanpa mereka sadari.

“Tapi, siapa Cherise?”tanya Jiyeon polos.

“Demi Cronos, si anak baru, dia Cherise! Dia penyelamat dunia.”ujar Kyuhyun membuat Myungsoo juga Jieun terdiam.

TBC

Daughters of Poseidon Story Three

nyimasRDA - daughter of poseidon 4

Daughters of Poseidon – Story Three

intro12

Author: nyimasRDA

Rating: G

Genre: fantasi

Length: chapter

Cast:

Park Jiyeon – Cherise

Kim Myungsoo

Kim Hyuna – Chaera

Cho Kyuhyun

Lee Jieun

Other

Note: FF ini real hasil pemikiranku. Don’t be a silent readers and don’t bashing! Maaf untuk persamaan karakter atau cerita, sungguh itu tidak disengaja. FF ini terlahir karena ketertarikan ku dengan Mitologi Yunani juga novel Percy Jackson.

-oOo-

 

Poseidon? Penguasa lautan? Tiga diantara dewa tertua? Apa kau fikir mereka ada? Jangan bodoh! – Park Jiyeon.

Seharusnya aku tidak pernah terlahir ke dunia ini. Aku sungguh ingin mati, sungguh! – Kim Hyuna.

-oOo-

  Baca lebih lanjut

Daughters of Poseidon – Story Two

nyimasRDA - daughter of poseidon 2

Daughters of Poseidon – Story Two

Teaser – 1

Author: nyimasRDA

Rating: G

Genre: fantasi

Length: chapter

Cast:

Park Jiyeon – Cherise

Kim Myungsoo

Kim Hyuna – Chaera

Cho Kyuhyun

Cha Jieun

Other

Note: FF ini real hasil pemikiranku. Don’t be a silent readers and don’t bashing! Maaf untuk persamaan karakter atau cerita, sungguh itu tidak disengaja. FF ini terlahir karena ketertarikan ku dengan Mitologi Yunani juga novel Percy Jackson.

 

Baca lebih lanjut

Marry You – Final Chapter

nyimasRDA - marry you 3

Marry you part two – Sequel of Arrogant Girl

arrogant girl 1 – 2 ~ marry you 1

Author: nyimasRDA

Rating: G

Genre: romance, sad, friendship

Length: Two Shoot

Main Cast:

– Park Jiyeon “T-ARA”

– Lee Jonghyun “CN BLUE”

Other Cast:

– Kim HyunA “4minute”

– Cho Kyuhyun “Super Junior”

– Park Sun Young (Sun Young) “T-ARA”

– other

Annyeong semuanya, maaf karena terlalu lama aku memposting FF ini, ya. Aku kehabisan pulsa modem dan sibuk dengan tugas kuliah yang bejibun. Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca FF ini sampai habis. Maaf untuk typo dan juga maaf untuk percakapan bahasa inggris yang aku tulis, karena sesungguhnya, aku tak mengerti bahasa inggris wkwk.. selamat membaca dan harap meninggalkan komentar.

 -oOo-

 I want to marry you and spend my life with you.

Please be on my side, forever babe.

I really want to marry you.

 Guess how much I love you.

You’re the only one for me

I’ve made up my mind

Surely I will marry you ~ k.will marry you

 -oOo-

  Baca lebih lanjut

Daughters of Poseidon Introduction

nyimasRDA - daughter of poseidon

Daughters of Poseidon Introduction

Author: nyimasRDA

Rating: G

Genre: romance, sad, friendship

Length: chapter

Cast:

Park Jiyeon

Kim Myungsoo

Kim Hyuna

Cho Kyuhyun

other

 

Annyeong readers, aku datang dengan FF judul baru nih.

Padahal yang Revenge dan Black Cat aja belum selesai, ya.

Aku dapat ide FF ini saat baca novel karya Rick Jordan,

FYI, aku memang suka sama Mitologi Yunani hehe.

Harap kalian meninggalkan jejak.

Tanggapan, saran atau apapun itu.

Semakin banyak comment, maka semakin cepat aku selesaikan FF ini.

-oOo-

“Jiyeon-na, kau harus mencarinya, bagaimanapun kau harus mencarinya.”ujar seorang wanita paruh baya menatap sendu mata gadis yang berwarna coklat menyala.

“Tapi Mom, aku tidak tahu siapa dia, kita tidak punya satu petunjukpun tentang dia.”

“Tapi kata Ayahmu.”

“Mommy percaya pada Daddy? Laki-laki yang meningalkan kita sejak aku lahir?”

“Jaga ucapanmu Park Jiyeon.”

“Tapi Mom..”

“Daddy menginginkan kita menemukannya, Daddy mau kau mencari Kakakmu.”

“Kakak tiri, maksudmu.”

-oOo-

“Hei, perkenalkan, namaku Jieun, Lee Jieun.”

“Well, tidak buruk juga berusaha berteman denganmu.”

“Kajja Jiyeon-nie kita pergi ke kantin.”

-oOo-

“Aku bisa merasakannya kehadiran sosok baru. Anak dari tiga tertua, aku bisa merasakannya Myungsoo-ya.”

“Aku juga merasakannya, sama seperti saat aku berdiri di dekat.. kau tahu, gadis bermasalah itu.”

“Apa mungkin dia…”

-oOo-

“Yya dimana matamu, eoh!”teriak gadis bermata coklat menyala saat seorang gadis berambut coklat menumpahkan coklat dingin ke baju seragamnya.

Gadis dengan rambut coklat serta mata coklat pekat itu hanya menoleh kemudian melangkah pergi, meninggalkan si gadis bermata coklat menyala yang kesal.”

-oOo-

“Jieun-ya, kau tahu, kenapa si mata coklat gelap itu membenciku?”

“Tidak tahu, hmm Jiyeon, jangan terlalu difikirkan, kau tahu, banyak gosip buruk dari dirinya.”

“Jinjja?”

“Hmm.”

-oOo-

“Lee Jieun? Apa kau Putri dari Aphrodite?”

Jieun memandang terkejut bukan main saat identitas aslinya terbongkar oleh seorang wanita paruh baya yang kini sedang berdiri di depannya.

“Keponakanku, maksudku kau keponakan suamiku.”

-oOo-

“Kau yakin? Jiyeon putri dari Poseidon? Penguasa Lautan?”

“Aku sangat yakin, Myungsoo-ya.”

-oOo-

“Kau tahu kenapa aku membencimu?”tanya seorang gadis bermata coklat pekat.

Matanya seolah berubah menghitam, seperti lautan yang akan kedatangan badai hebat.

“Karena kau mirip dengan Ibuku, dan aku benci itu.”

TBC

cast daughters of poseidon

1. Park Jiyeon

Gadis berusia enam belas tahun yang diberi tugas untuk mencari saudari tirinya, anak Ayahnya dengan wanita lain. Jiyeon adalah putri tunggal dari Park Ha Neul, designer terkenal di Roma dan juga mantan istri dari Poseidon.

2. Kim Hyuna

Satu tahun diatas Jiyeon, sangat membenci Ibu dan juga kekasihnya yang membuat dirinya terlahir di dunia. Berusaha sekeras mungkin hidup sendiri tanpa keluarga. Ia bisa mengerti perkataan Kuda.

3. Kim Myungsoo

Putra dari dewa Apollo, suaranya yang indah dan juga kepandaiannya bermain musik sudah tak bisa diragukan lagi dan semua itu ia dapat dari darah ayahnya. Kim Myungsoo mempunyai rahasia besar, ia jatuh cinta pada Jiyeon, sepupunya.

4. Lee Jieun.

Gadis cantik yang mewarisi kecantikkan dari sang Ibunda, Aphrodite. Bersahabat baik dengan Jiyeon dan bisa merasakan kekuatan dewa dari orang-orang disekililingnya, Jieun yang pertama kali sadar siapa Jiyeon sebenarnya.

5. Cho Kyuhyun

Pria misterius yang terus memperhatikan Hyuna karena tugas yang ia terima langsung dari Ayahnya dan karena itulah ia jatuh cinta pada gadis aneh itu. Kyuhyun harus memilih antara cinta atau pengabdiannya, pengabdian pada dewa orang mati, Hades.

6. Kim Ha Neul as Park Ha Neul

Menikah dengan Ayah Jiyeon enam belas tahun lalu dan langsung di karuniai seorang putri yang cantik, sangan mencintai suaminya yang sudah pergi meninggalkannya, wanita yang sangat sabar dan penyayang.

7. Kim Tae-Hee

Seorang artis terkenal di kota Seoul, pernah melakukan kesalahan dengan mempercayai pria asing bernama Kevin McKidd dan mempunyai seorang putri dari hubungannya tersebut. Ia membuang putrinya, namun diam-diam ada rasa rindu yang ia rasakan.

8. Poseidon God Of the Sea

Penguasa lautan, salah satu dari dewa tertua yang mempunyai hak penuh atas laut juga bumi.

Marry You – Sequel of Arrogant Girl ( Chapter 1)

nyimasRDA - marry you

Marry you part one – Sequel of Arrogant Girl

Author: nyimasRDA

Rating: G

Genre: romance, sad, friendship

Length: One Shoot

Main Cast:

– Park Jiyeon “T-ARA”

– Lee Jonghyun “CN BLUE”

Other Cast:

– Kim HyunA “4minute”

– Cho Kyuhyun “Super Junior”

– Park Sun Young (Hyomin) “T-ARA”

– other

Note: cerita ini hanya hasil karanganku saya, cast yang aku pakai semua milik agensi masing-masing. Harap meninggalkan komentar di setiap FFku, maaf untuk kesalahan grammar dalam bahasa inggris dan juga maaf jika salah penulisan dalam bahasa Korea, aku memang nggak fasih di kedua bahasa itu hehe. Terima kasih.

Aku harap kalian semua memberikan comment, karena semakin banyak comment yang masuk aku akan semakin mempercepat penyelesaian FF ini.

-oOo-

I want to marry you and spend my life with you.

Please be on my side, forever babe.

I really want to marry you.

 Guess how much I love you.

You’re the only one for me

I’ve made up my mind

Surely I will marry you ~ k.will marry you

 

-oOo-

Seorang gadis tengah berjalan di depan Sungai Han, hamparan rerumputan menyambut jemari si gadis yang sengaja ia buka, merasakan setiap sentuhan di kulitnya. Angin musim musim panas tengah menyapu permukaan wajahnya, membuatnya harus menarik lebih dalam jaket yang ia kenakan, melindungi tubuhnya dari tajamnya angin malam. Gadis itu memandang lurus ke arah tenangnya Sungai Han yang dihiasi lampu-lampu dari gedung di depannya, menyandarkan tubuhnya pada kap mobil Audi A6 silver miliknya, hal yang selalu ia lakukan dua tahun terakhir. Yeoja itu memutar tubuhnya, mengangkat sebelah tangannya untuk melindungi mata indahnya dari tajamnya lampu kendaraan yang mendekat, kemudian gadis itu tersenyum. Seorang gadis dengan rambut hitam panjang berponi keluar dari sisi kemudi Bentley kuning yang sudah sangat ia kenal, dengan bibir mengerucut gadis itu mendekat.

“Yya Park Jiyeon! Kau tahu sudah berapa lama aku mencarimu, eoh?”seru gadis pendatang keras.

Jiyeon hanya tersenyum. Ya, gadis itu adalah Park Jiyeon, yeoja dengan perawakan cantik dengan mata coklat dan juga hidung mancung serta bibir yang mungil telah berhasil menjalani hidupnya tanpa adanya Jonghyun, namja yang ia cintai. Kini Jiyeon tumbuh menjadi gadis tertutup, meski sejak awal ia memang tak pernah bersikap ramah, tapi sejak sepeninggalan Jonghyun, Jiyeon jadi semakin pendiam, bahkan dengan sahabatnya, Hyuna, ia enggan bercerita.

“Mianhe.”hanya itu yang bisa gadis berponi dengar dari bibir Jiyeon.

“Kajja kita pulang Jiyeon-nie, kau bisa sakit.”

“Sebentar lagi Hyuna-ya.”

“Aish, jinjja.”gerutu Hyuna kesal. “Aku tahu kau pasti akan mengatakan hal itu, jadi, aku membawakan ini untukmu.”

“Igeo?”

“Meogo, aku tahu kau pasti belum makan.”

“Gomawo..”

Jiyeon mengambil sekantung tteobbokki kesukaannya, kue beras dengan rasa pedas ini selalu menjadi temannya jika ia ingin meluapkan perasaannya dan Hyuna tahu, perasaan sahabatnya kini sangat kacau.

“Ah, pedas sekali.”ujar Jiyeon dengan mata berkaca-kaca.

Hyuna tersenyum.

“Yya, kau mau membunuhku, eoh? Besok aku ada kuliah pagi, dan kau memberikanku ini?”

“….”

“H-Hyuna, naega…”

Hyuna menarik Jiyeon untuk masuk ke dalam pelukkannya, membiarkan sahabatnya itu menangis sejadi-jadinya, tenggelam dalam kesedihan yang selama dua tahun ini selalu ia rasakan.

“Menangislah.”ujar Hyuna pelan.

“Aku tidak menangis!”

“Arraso, kau tidak menangis, arraso.”

-oOo-

Jiyeon berlari dengan tergesa-gesa menuju ruangan yang biasa ia tempati, saat ini Jiyeon berkuliah di Kyung Hee University jurusan seni budaya, sama seperti Hyuna.

“Park Jiyeon!”pekik seorang namja membuat Jiyeon terkejut.

“Nuguseyo?”tanya Jiyeon bingung.

Hari ini ia ada ujian pagi hari dan saat ini ia sedang terburu-buru, namun langkahnya terhenti karena namja yang tak ia kenal ini. Jika ia masih menjadi Jiyeon yang dulu, mungkin namja tampan ini sudah ia hajar habis-habisan.

“Kau tidak mengingatku?”

“Cepat katakan apa maumu.”

“Kau benar tidak mengingatku?”

“Memangnya kau siapa sampai harus aku ingat, eoh? Sudahlah, aku harus pergi.”baru selangkah Jiyeon pergi, namja itu sudah mengatakan hal yang tak bisa Jiyeon percaya.

“Aku Lee Hongki, kau tidak mengenaliku? Aku jurusan musik, dan..”

“Ah baiklah Lee Hongki-ssi, aku sudah tahu siapa dirimu, jadi aku pergi.”

“Aku menyukaimu….”ujar namja bernama Hongki itu pelan.

“Mwo?”

“Nde! Nan joahe.”

“Bicara apa kau ini, eoh? Apa kau fikir aku wanita murahan yang akan menerima cintamu? Dengarkan aku, aku tidak mungkin menerima namja sepertimu, arraso?”ujar Jiyeon lalu meninggalkan Hongki sendiri.

“Jiyeon menolak.”ujar seseorang namja.

“Terus selidiki dirinya dan laporkan semuanya padaku.”

“Ye, arra.”

-oOo-

“Jiyeon-nie, yeogi.”panggil seseorang saat Jiyeon keluar dari gerbang Kyung Hee University.

“Oh, Eonnie!”

“Yya, aku ini bibimu, kenapa memanggil Eonnie, eoh?”tanya seorang gadis berparas cantik.

“Haha itu karena kau masih sangat cantik dan lebih pantas menjadi Eonnie ku!”

“Aish, kau sudah makan siang?”

“Wae? kau ingin mentraktirku?”

“Hmm, asal kau tidak meminta makanan yang mahal.”

“Eonnie!”

“Haha, kajja kita cari tempat makan.”

Jiyeon masuk ke dalam sebuah Mercy hitam milik Park Sun Young, yeoja ini mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan untuk sahabatnya, Hyuna.

“Menghubungi kekasihmu, eoh?”tebak Sun Young tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

“Eh? Anniya, aku menghubungi Hyuna, dia pasti mencariku.”

“Oh, ku fikir kekasihmu.”

“Aku tidak punya kekasih Eonnie.”jawab Jiyeon sebelum menerima pesan balasan dari Hyuna.

Screenshot_2014-02-03-17-18-35

“Eish yeoja ini!”gerutu Jiyeon pelan.

“Wae?”

“Anni, Hyuna ada janji dengan Kyuhyun Oppa, jadi tak masalah jika aku pulang lebih dulu.”

“Hyuna? Memiliki kekasih? Wah! Kau sendiri, kapan akan menentukan pendampingmu, eoh?”

“Aku masih belum tertarik Eonnie.”

“Apa masih memikirkan Jonghyun?”tanya Sun Young.

“….”

“Aku tahu dengan benar bagaimana perasaanmu untuknya Jiyeon-nie.”

“Anniya, aku tidak memikirnya sama sekali Eonnie, aku hanya belum menemukan…”

“Belum menemukan yang seperti Jonghyun?”

“….”

“Tidak akan ada namja yang seperti dia Yeonnie-ya, aku tahu bagaimana perasaannya.”

“….”

“Dia mencintaimu, sangat.”

“Tapi aku tidak mencintainya.”

“Jangan menipu diri lagi.”

“Aku tidak menipu diri.”

“Kau menipu diri.”

“Aku tidak…”

“Aku ada di bandara ketika kau mengejar Jonghyun, aku melihat semuanya.”ujar Sun Young membuat Jiyeon terdiam, ia tak ingin melanjutkan lebih jauh lagi perdebatan ini.

Jiyeon mengalihkan pandangannya, menatap jalanan kota Seoul yang begitu megah, tak banyak yang berubah sejak kepergian Jonghyun, jalanan itu masih saja padat saat jam-jam sibuk. Jiyeon menengadahkan kepalanya, berusaha sebisa mungkin menahan buliran air mata yang sudah hendak menerobos pertahanannya. Bayangan demi bayangan yang terjadi dua tahun lalu mulai membayangi fikirkannya, membuatnya tenggelan dalam kelamnya masa lalu.

Flashback on

Jiyeon menginjak pedal gasnya dengan penuh kekhawatiran, wajahnya yang sudah di penuhi air mata membuat penampilannya terlihat kacau. Wajah pucat dan juga pakaian rumah membuatnya seperti orang gila, terlebih lagi ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Berkali-kali Hyuna menekan klaksonnya, berharap para pengguna jalan di depannya akan menyingkir sehingga ia lebih cepat sampai bandara.

Gadis itu memarkirkan mobil kesayangannya dengan sembarang, menerobos puluhan rombongan yang akan pergi maupun yang baru saja tiba. Pandangannya sibuk mencari sosok namja tampan dengan kulit seputih susu yang sangat ia kenal.

“Lee Jonghyun, eodisseo..”lirih yeoja cantik ini berkali-kali. Jiyeon menggigit bibir bawahnya, tanda ia sedang panik luar biasa. Yeoja ini merogoh saku celanyanya, berusaha menghubungi seseorang.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau…

Jiyeon memutuskan sambungan telephone dan berusaha menghubungkannya lagi, namun tetap saja jawaban yang sama yang ia terima. Jiyeon berlari ke arah pintu keberangkatan, matanya memandang deretan tempat yang akan dituju dengan nama maskapai juga waktu keberangkatan. Matanya yang penuh dengan air mata membuat penglihatannya sedikit memburam.

“Itu pesawatnya! London! Penerbangan terakhir….”

Kaki-kaki jenjang Jiyeon seketika melemah, tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya yang tak terlalu berat. Penglihatannya semakin tersamar seiring dengan air mata yang mulai membanjiri kelopaknya. Tak lagi ia fikirkan cibiran-cibiran orang yang melihat keadaannya dan tak ia pedulikan pandangan iba dari siapa saja yang menatap dirinya, kini, Jiyeon tengah kehilangan cintanya, cinta pertamanya.

“Wae? wae? wae?! kenapa kau meninggalkanku Lee Jonghyun!!! Wae?!”teriak Jiyeon.

Tangis Jiyeon terus terdengar sampai ada seseorang yang memeluknya.

Flashback off

-oOo-

Sun Young memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk Berlin Café & Lounge, ia tahu benar kalau tempat ini adalah tempat yang pernah dikunjungi oleh Jiyeon dan Jonghyun sementara Jiyeon hanya memandang Berlin Café & Lounge dengan tatapan sedih. Berlin Café & Lounge adalah Caffe pertama yang ia kunjungi dengan Jonghyun, meski berakhir dengan keributan, namun, hal itu sangat membekas di hatinya. Jiyeon ingat betul bagaimana Jonghyun memukul wajah Jungshin yang ternyata adalah sepupunya karena terus menggoda dirinya, samar, Jiyeon tersenyum.

“Kau ingin pesan apa?”tanya Sun Young membuyarkan lamunan Jiyeon.

“Aku ingin Lemon Frizzle Martini.”jawab Jiyeon.

“Yya! Kau ingin minum ditengah hari bolong begini, eoh?”

“Ah, anniya, aku sudah meninggalkan kebiasaan minumku, maksudku berikan aku Lemon Tea.”ujar Jiyeon pada pelayan yang mendatangi mereka. “Eonnie, kau pesan apa?”

“Aku pesan Iced Café Latte.” Sun Young mengatakan pesanannya sambil tersenyum.

Jiyeon memandang wajah Sun Young dengan tatapan bingung, sebenarnya ada apa dengan bibinya ini. Ia membawa Jiyeon ke tempat pertama ia kunjungi dengan Jonghyun dan memesan hal yang sama dengan namja itu.

“Wae? kenapa memandangku begitu?”tanya Sun Young.

“Ah? Anniya Eonnie, kau hanya… terlihat sedikit lebih tua.”goda Jiyeon.

“Mwo? Yya, aku sudah menebalkan make up ku, mana mungkin aku terlihat lebih tua.”

“Hahaha, igeo igeo, kau tak lihat kerutan disini?”tunjuk Jiyeon pada sudut mata Sun Young.

“Yya! Neo!”kesal Sun Young membuat Jiyeon tertawa, namun perlahan ia juga ikut tersenyum, memandang keponakannya yang tertawa, Sun Young tersenyum.

Park Sun Young pov

Hari ini aku ingin mengajak Jiyeon bertemu dan membicarakan tentang keinginanku untuk mengajaknya pergi ke pertemuan dengan kolega kami di Belanda, hal ini aku lakukan atas saran dari Jung-Soo Oppa, mengingat Jiyeon akan mewarisi perusahaan. Kini aku menunggu Jiyeon keluar dari kelasnya karena yang aku tahu dari bibi Baek kalau keponakanku ini pergi ke kampus pagi-pagi sekali. Mataku memicing ketika melihat seorang gadis dengan rambut coklatnya sedang berjalan mendekat ke arah mobil Audi A6 silver, gadis itu mengenakan celana levis juga kemeja berwarna baby pink, rambutnya dibiarkan tergerai di tangan gadis itu aku melihat beberapa buku tebal.

“Jiyeon-nie, yeogi.”aku melambaikan tangan saat melihat keponakanku yang sangat cantik itu, Jiyeon tersenyum dan berjalan mendekat.

“Oh, Eonnie!”panggilnya yang membuatku tersipu, bagaimana tidak, aku yang adalah bibinya ia panggil dengan sebutan Eonnie? Dasar anak nakal.

Kemudian aku mengajaknya untuk pergi ke sebuah tempat makan, tempat makan yang aku tahu dari Jonghyun, tempat makan yang pertama ia kunjungi bersama Jiyeon. Aku melirik sekilas ke arah Jiyeon, memperhatikan gadis kecil ini yang sedikit sibuk dengan ponselnya. Fikiran usil mulai merasuki otakku, aku berusaha mencari informasi, apa Jiyeon sudah memiliki kekasih atau belum.

“Menghubungi kekasihmu, eoh?”tebakku membuat Jiyeon menoleh..

“Eh? Anniya, aku menghubungi Hyuna, dia pasti mencariku.”

“Oh, ku fikir kekasihmu.”

“Aku tidak punya kekasih Eonnie.”

Ah! Aku akan melaporkannya pada Jonghyun kalau Jiyeon tidak memiliki kekasih, entah mengapa aku sangat senang jika kedua orang itu bersatu. Menurutku, Jonghyun mempunyai perasaan yang sangat tulus.

“Hyuna? Memiliki kekasih? Wah! Kau sendiri, kapan akan menentukan pendampingmu, eoh?”

“Aku masih belum tertarik Eonnie.”

“Apa masih memikirkan Jonghyun?”tanyaku yang langsung membuat Jiyeon terdiam, aku melirik lagi ke arah gadis cantik ini, omona! Wajahnya berubah sedih, apa Jiyeon masih memikirkan Jonghyun?

“Dia mencintaimu, sangat.”kataku penuh penekanan.

“Tapi aku tidak mencintainya.”

“Jangan menipu diri lagi.”

“Aku tidak menipu diri.”

“Kau menipu diri.”

“Aku tidak…”

“Aku ada di bandara ketika kau mengejar Jonghyun, aku melihat semuanya.”

Ya memang benar, saat itu, aku memang ada di bandara, mengantarkan si bodoh Jonghyun meninggalkan cinta pertamanya dan untuk pertama kalinya melihat bagaimana Jiyeon menangis, sesedih itu. Jiyeon adalah gadis yang kuat, ia tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depan siapapun, terkecuali Hyuna. Aku bahkan tidak pernah melihatnya menunjukkan emosinya di depan keluarganya, apalagi menangis. Tapi saat itu, Jiyeon mengeluarkan air matanya untuk Jonghyun, membiarkan dirinya menjadi bahan tontonan semua orang di bandara Incheon.

Flashback on

Aku melangkahkan kaki beriringan dengan tunanganku Fu Xin-Bo Oppa, hari ini adalah hari keberangkatan Jonghyun ke London. Pagi-pagi sekali Jonghyun menghubungiku dan mengatakan kalau dirinya akan meninggalkan Seoul dan menetap di salah satu negara di Eropa itu. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba meninggalkan Seoul, tapi aku tahu itu pasti ada hubungannya dengan Jiyeon dan juga Jung-Soo Oppa.

“Sun Young-ah.”panggil namja itu, Lee Jonghyun.

“Yya babo-ya! Bagaimana bisa kau meninggalkan Seoul, eoh!”kesalku sambil memukul lengannya.

“Mianhe, mungkin aku membuatmu terkejut, keunde, aku sudah memikirkan hal ini matang-matang dan jangan mencoba untuk menghalangiku, arraso!”ujarnya membuatku ingin menangis.

Bagaimana tidak, sejak pertemuan pertamaku dengannya, hubungan kami memang bisa dibilang dekat, apalagi Jonghyun menjalin bisnis dengan tunanganku dan Jonghyun juga mencintai keponakanku, hal itu membuat hubungan kami menjadi dekat. Jonghyun sering menceritakan keluh kesahnya dalam menghadapi sikap Jiyeon, ia juga selalu bertanya tentang apa yang harus ia lakukan dan begitu juga sebaliknya. Kami bersahabat sejak ia meminta izin untuk menjadi pengawal Jiyeon.

“Andwae, aku mana mungkin menghalangimu, justru aku senang karena satu namja pintar menghilang dan membuatku mempunyai kesempatan besar menjadi pebisnis muda yang sukses.”ujarku berlinang air mata.

“Yya, itu mana mungkin, aku akan tetap menjadi pebisnis muda tersukses.”ujar Jonghyun meremehkanku. “Xin-Bo, jagalah sahabatku ini, ne. kalau dia macam-macam denganmu, kau boleh menghajarnya!”lanjut si babo Jonghyun sambil memeluk tunanganku.

“Ye, aku akan menjaga sahabatmu ini dengan baik, kau tenanglah Jonghyun.”

“Sun Young-ah, jaga dirimu ne? kalau kau butuh teman cerita, kau bisa menghubungiku, meski aku tinggal di London, aku berjanji akan tetap meluangkan waktu untuk mendengar celotehanmu itu.”

“Baboya!”ujarku memeluk Jonghyun dan terisak dipelukannya.

“Aku mohon jaga Jiyeon dan laporkan segala sesuatunya padaku. Aku mengangkatmu secara resmi sebagai agen mata-mataku.”

“Cih.”

“Jangan lupa undang aku jika kalian menikah.”

“Aku akan menikah jika kau sudah bertungangan dengan Jiyeon.”ujar Xin-Bo Oppa membuatku terkejut.

“Yya, jangan begitu, hal itu tidak mungkin terjadi, Jiyeon, dia membenciku.”

“Anni, Jiyeon mencintaimu, aku tahu itu.”jawabku berusaha meyakinkan sahabatku yang bodoh ini.

“Semoga saja..”

“Tuan, sudah waktunya kita pergi.”ujar seorang namja yang sudah sering ku lihat.

“Ne Ok Jung-ah.”jawab Jonghyun tersenyum. “Geure, aku akan pergi sekarang. Jaga diri kalian baik-baik, arrachi?”Jonghyun memelukku dan juga Xin-Bo Oppa bersamaan kemudian meninggalkan kami.

Xin-Bo Oppa menarik tanganku untuk meninggalkan bandara, tapi tiba-tiba saja langkahku terhenti.

“Wae? wae? wae?! kenapa kau meninggalkanku Lee Jonghyun!!! Wae?!”

Aku mendengar sebuah suara yang sangat aku kenal.

“Kau mendengarnya?”tanya Xin-Bo Oppa padaku.

“Hmm, itu seperti… Jiyeon!”pekikku ketika melihat seorang gadis tengah terduduk dil lantai sambil terus menangis.

Aku berjalan mendekat, berusaha melihat dengan lebih jelas siapa yang kini ada di hadapanku.

“Jiyeon-na, gwaenchanha?”tanyaku memeluk tubuh Jiyeon.

“Wae? wae? wae?! Lee Jonghyun! Aku mohon jangan pergi.”teriak Jiyeon lagi.

Flashback off

“Kau ingin pesan apa?”tanyaku membuyarkan lamunan Jiyeon.

“Aku ingin Lemon Frizzle Martini. Eonnie, kau pesan apa?”

Aku berfikir sejenak, berusaha mengingat minuman apa yang dipesan si bodoh Jonghyun.

“Aku pesan Iced Café Latte.”ujarku lugas membuat Jiyeon menatapku.

Aku tahu, gadis ini mengingat Jonghyun.

Park Sun Young pov end

-oOo-

“Jadi, apa yang ingin Eonnie sampaikan padaku?”tanya Jiyeon setelah ia menyesap Lemon Tea pesanannya.

“Eh?”

“Eonnie, aku tahu, kau pasti disuruh Appa untuk menemuiku, ya kan?”

“Ei, kau memang sangat pintar. Hmm Yeonnie-ya, begini, minggu depan, perusahaan akan mengadakan pertemuan dengan beberapa kolega kita di Belanda.”

“Lalu?”

“Oppa menyuruhku untuk mengajakmu ikut serta, kau tahu, kan kalau dirimu akan mewarisi perusahaan.”

“Eonnie, kau kan tahu kalau aku sama sekali tidak tertarik dengan urusan perusahaan. Aku juga tidak pernah mengatakan akan menjadi pewaris Appa.”Jiyeon berusaha mengelak, ia benar-benar tidak suka jika harus mewarisi perusahaan.

“Keunde Jiyeon-nie, Appamu sangat menginginkan dirimu untuk hadir di acara itu.”

“Untuk apa aku kesana? Aku tidak mengerti sedikitpun tentang urusan perusahaan, Eonnie.”

“Aku akan mengajarkanmu.”

“Keunde..”

“Eonnie mohon, satu kali ini saja, biarkan Eonnie membawamu untuk pergi ke Belanda, senangkan hati Appamu.”

“Arraso, tapi aku tidak berjanji untuk mewarisi perusahaan, lagipula perusahaan itu bisa Eonnie yang menjalankan dan aku akan membuka butik bersama Hyuna.”

“Terserah padamu saja. Ingat, minggu depan kita akan pergi.”

“Arra.”

-oOo-

London

“Hello good afternoon, this is Yoo Ok Jung speaking, can I help you?”ujar seorang namja berpakaian formal melalui telephonnya.

“Good afternoon mr. Yoo, can I speak to the mr. Lee?”jawab seorang yeoja.

“Sorry, but, with whom I spoke?”tanya namja itu lagi.

“Say to the mr. Lee, if his best friend from Korea calling.”

“Yes madam, I will talk to the mr. Lee. Please wait a momment.”

“Sure.”

Namja dengan setelan jas berwarna hitam mengangkat gagang telephone yang lain, menekan angka satu dan menunggu jawaban dari yang ia hubungi.

“Wae Ok Jung-ah?”tanya seorang namja tampan melalui sambungan telephone.

“Ada seseorang yang ingin bicara dengan anda tuan.”

“Nuguya?”

“Moreugeossoyo, keunde, dia mengatakan kalau dirinya adalah sahabat tuan dari Korea.”

“Sun Young?”fikir Jonghyun dalam hati. “Sambungkan aku padanya.”

“Ye tuan, ihaehada.”

Jonghyun mengangkat gagang telephone yang terletak tepat di samping kanannya, menunggu sambungan pada seseorang yang sangat ia rindukan.

“Hello.”sapa seseorang wanita yang sangat Jonghyun kenal.

“Hello Sun Young-ah?”

“Yes, its me.”

“Ah jinjja! Sun Young-ah how are you?”

“Not very good, how about you?”

“Yes, me too.”

“Why?”

“I have many problem in here.”

“Really? I think it’s all goes well”

“Not all, my work not going well and…”

“And you miss her? My nephew?”

“Hmm I don’t miss her, Sun Young-ah.”

“Don’t lie to me, I know you so well, okay.”

“I did’nt lie.”

“But you lie to me, I know all of this is too hard for you, Jonghyun-ah.

“Hhh, I can’t lie to you.”desah Jonghyun pelan, ia tahu kalau sahabatnya ini memang sangat mengerti dirinya.

“Jonghyun-ah, why you don’t ever call me?”

“Mianhe Sun Young-ah, I’m little busy.”

“Aku tidak menerima alasan apapun tuan Lee!”

“Yya, jangan marah seperti itu. hmm, bagaimana hubunganmu dengan Xin-Bo?”

“Kami tetap berhubungan baik.”

“Tidak ada rencana untuk menikah?”

“Bukankah sudah Xin-Bo Oppa sudah mengatakan kalau ia akan menikahiku kalau kau bertunangan dengan Jiyeon?”

“Yya, jangan bercanda, aku dan Jiyeon tidak mungkin bersama.”

“Wae? apa kau sudah menemukan wanita lain?”

“Anniya, hatiku masih terisi oleh Jiyeon.”

“Jinjja?”

“Ye!”tegas Jonghyun.

“Ah Jonghyun-ah, tadi siang aku bertemu dengan Jiyeon dan membahas dirimu.”

Jonghyun tak menjawab, ia sibuk menenangkan hatinya, bersiap menerima apapun cerita yang akan dikatakan oleh Sun Young.

“Ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Katakanlah Sun Young-ah, sejak tadi juga kau terus bicara.”

“Yya, aku serius!”

“Hahaha mian, bicaralah, aku akan mendengarkan.”

“Saat keberangkatanmu ke London, sebenarnya, Jiyeon datang ke bandara.”

“Aku tahu..”

“Kau tahu?”

“Hmm, aku melihatnya sesaat sebelum pergi.”

“Lalu kenapa kau tetap meninggalkan Seoul?”tanya Sun Young penasaran, ia benar-benar bingung dengan jalan fikiran sahabatnya ini.

“Karena aku tahu Jiyeon hanya ingin mengembalikan kalung yang aku berikan.”

“Mwo?!”

“Aku melihatnya menggenggam kalung itu, jadi..”

“Neo jinjja babo-ya! Saat itu, Jiyeon tidak ingin mengembalikan kalung pemberianmu.”

“Lalu? Untuk apa dia mendatangiku?”

“Dia ingin menahanmu, apa kau tidak tahu bagaimana tangisannya saat itu? Jiyeon, dia menangis tersedu di tengah orang-orang, ia bahkan menjerit-jerit, memanggil namamu dan memintamu untuk tidak pergi.”

“Kau bercanda.”

“Aku serius! Bukankah aku sudah katakan kalau aku serius!”

“Jadi.. selama ini, aku salah faham?”

“Aish!”

“Sun Young-ah, eotteoghe? Apa yang harus aku lakukan. Aku sudah membuat Jiyeon menangis, bagaimana ini….”ujar Jonghyun cemas.

“Aku punya rencana.”

“Meot?”

Sun Young mengatakan rencana yang sudah ia susun dengan baik selama dua tahun ini sementara Jonghyun berfikir keras akan melakukan rencana Sun Young atau tidak.

“Eottheo?”

“Well, aku memang sedikit butuh liburan. Ayo kita laksanakan rencana bodohmu itu.”

“Kau akan sangat berterima kasih jika rencana bodoh ini berjalan lancar, Jonghyun-ah.”

“Ah ne, gomapta Hyomin-ah.”ujar Jonghyun memanggil nama kecil Sun Young.

-oOo-

Jiyeon lagi-lagi mendatangi sungai Han, yeoja ini memejamkan matanya, merasakan semilir angin dan sinar senja yang tak terlalu indah sore ini.

“Hhh.”Jiyeon mendesah pelan, menghembuskan nafas berat, seolah dirinya ingin melepaskan beban yang sangat berat.

Tintin.

Terdengar bunyi klakson dari belakang Jiyeon, gadis ini tak langsung menoleh, karena ia tak mengenal bunyi klakson yang baru saja ia kenal.

“Itu bukan Hyuna, aku tahu dengan pasti bagaimana bunyi klakson yeoja itu, kagi pula ia tak biasa membunyikan klakson. Suara itu bukan juga milik mobil Kyuhyun Oppa.”bisik Jiyeon pada dirinya sendiri.

“Park Jiyeon-ssi?”panggil seseorang.

“….”Jiyeon tak ingin menjawab, matanya terus terpejam seolah ia tak mendengar teguran yang baru saja diucapkan seseorang.

“Ah benar! Ternyata memang engkau, bagaimana bisa kita bertemu disini.”ujar suara itu lagi.

“….”

“Kau sedang apa disini?”

“….”

“Menangkan diri? Atau menunggu seseorang?”

“….”

“Aku sangat senang bertemu denganmu, Park Jiyeon-ssi.”

“….”

“Ah kau…”

“Kau bisa diam tidak?!”hardik Jiyeon keras, ia benar-benar gerah mendengar ocehan dari bibir namja di sampingnya ini.

“Mianhe, aku, hanya terlalu senang bisa bertemu denganmu.”

“Dan aku terlalu malas meladenimu.”

“Wae?”

“Karena aku tidak mengenalmu.”

“Tapi aku sudah memperkenalkan diriku saat di kampus, apa kau..”

“Apa itu penting bagiku? Mengenal namja yang tiba-tiba menyatakan perasaannya padaku? Tsk.”

“Keunde..”

“Bisakah kau pergi dari sini? Kau mengganggu!”

“Ah mian, kalau begitu lebih baik aku pergi..”

Namja itu melangkah pergi, meninggalkan Jiyeon sendiri.

“Dia adalah yeoja es! Bagaimana bisa kau menyukainya? Babo namja!”ujar seseorang melalui sambungan telephone.

“Jadi benar ia ada di sungai Han?”

“Ne.”

“Dan dia menolak lagi?”

“Hmm, bahkan dia mengusir.”

“Omona! Dia tidak pernah berubah.”

Bersamaan dengan perginya namja itu, seorang gadis datang bersama kekasihnya.

“Yya, bisakah kau tidak membawa kekasihmu saat ingin menemuiku?”tanya Jiyeon sebelum gadis itu menyapanya.

“Yya! Kenapa memangnya kalau aku mengajak Kyuhyun Oppa?”

“Tsk!”ujar Jiyeon memandang sinis sahabatnya, Hyuna.

“Keunde Jiyeon-na, namja tadi, nuguya?”ujar Kyuhyun yang berpapasan dengan Hongki.

“Ne! siapa dia?”ujar Hyuna ikut bertanya.

“Molla.”

“Apa dia seorang penguntit?”tanya Hyuna lagi.

“Iss kau ini!”gerutu Jiyeon yang dijawab cengiran khas Hyuna.

-oOo-

Dua minggu kemudian

Dua orang wanita dengan perawakan cantik terlihat keluar dari pintu kedatangan internasional Bandara internasional Schiphol, Amsterdam. Salah satu wanita mengenakan celana pendek serta sepatu boot selutut berwarna hitam juga jaket kulit berwarna merah sedangkan satu wanita lagi mengenakan dress panjang berwarna coklat serta se[atu berhak tinggi dan juga tas tangan yang sangat cantik. Kedatangan kedua wanita ini tak ayal menjadi perhatian para pengunjung yang ada di bandara.

“Jiyeon-nie, igeo, aku rasa dia yang akan menjemput kita.”ujar wanita dengan pakaian dress sambil menunjuk seseorang.

“Jinjja? Mengapa dia seperti orang Korea.”ujar wanita lain yang ternyata adalah Jiyeon.

“Bukankah lebih bagus kalau orang Korea yang menemani kita?”ujar yeoja itu lalu berjalan lebih dulu.

“Good morning miss Park.”sapa namja berpakaian rapi yang menyambut kedatangan kedua gadis ini.

“Good morning…”ujar Sun Young terhenti.

“Yoo Gi Young, you can call me Gi Young.”

“Ah, good morning Gi Young-ssi.”

“Can you speak Korean? Because I can’t speak english.”ujar Jiyeon tiba-tiba membuat Sun Young dan Gi Young tersenyum.

“Nde, anda bisa menggunakan bahasa Korea jika itu membuat anda lebih nyaman.”ujar Gi Young, ramah.

“Kalau begitu, kita langsung pergi ke Hotel atau kau ingin ke suatu tempat Jiyeon-nie.”tanya Sun Young pelan.

“Ku fikir lebih baik anda pergi ke hotel terlebih dahulu, setelah itu saya akan mengantar anda berkeliling jika memang anda menginginkannya.”

“Kita tidak langsung rapat?”tanya Jiyeon bingung, karena tujuannya ke Belanda bukan untuk berpetualang.

“Rapat akan dilaksanakan besok nona.”

“Aku memang sengaja memilih keberangkatan lebih cepat satu hari, ku fikir kita butuh sedikit relaksasi sebelum memulai hari yang panjang esok hari.”jelas Sun Young saat melihat wajah bingung Jiyeon.

“Geure, kita pergi ke hotel terlebih dulu baru antar kami berkeliling.”ujar Jiyeon akhirnya.

“Ye nona, silahkan lewat sini.”ujar Gi Young menuntun perjalanan.

-oOo-

Hanya perlu menempuh perjalanan kurang lebih 9 kilo dari bandara, kini Jiyeon dan Sun Young sudah sampai di Hilton Amsterdam Hotel, hotel megah dan mempesona itu memanjakan mata Jiyeon. Jiyeon bahkan tidak bisa menutupi kekagumannya ketika melihat interior lobby hotel bintang lima ini, terlebih saat ia masuk ke dalam kamarnya yang memang dipilih secara hati-hati, Sun Young tahu, keponakannya ini mempunyai selera yang tinggi, sehingga ia tidak mau mengecewakan hati Jiyeon dan merusak rencananya.

“Aku keluar sebentar.”ujar Sun Young saat melihat Jiyeon hendak pergi membersihkan dirinya.

“Ne Eonnie, aku akan bersiap-siap dulu.”

Sun Young berjalan menyusuri lorong lantai tempatnya menginap, menuju lift yang akan membawanya kembali ke lobby.

“Sun Young-ah!”ujar seorang namja melambaikan tangannya, namja tampan dengan kulit putih memikat.

“Jonghyun-ah! Bogoshippo.”ujar Sun Young langsung menghambur ke dalam pelukan sahabatnya itu.?

“Nado! Bagaimana? Apa semua berjalan lancar?”ujar Jonghyun melepas pelukannya.

“Yya, kami baru saja sampai. Ingat, pergilah ketempat yang sudah aku tentukan, disitu kau akan bertemu dengan Jiyeon.”

“Ne! aku akan segera ke tempat itu dan menunggu kalian.”

“Semoga berhasil Jonghyun-ah.”

“Gomawo.”

-oOo-

Jonghyun kembali menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari Hotel tempat Sun Young dan Jiyeon menginap. Senyum cerah tak pernah hilang dari wajah tampannya, hal itu menarik sekertarisnya.

“Apa tuan sedang senang?”tanya namja yang kini duduk di kursi penumpang samping kemudi.

“Eh?”

“Tuan terus tersenyum sejak berada dalam pesawat dan terlihat semakin cerah ketika keluar dari hotel, apa tuan sudah bertemu nona Jiyeon?”

“Yya, kau ini… apa kau terlalu terlihat bahagia?”

“Ne tuan, anda terlihat sangat bersemangat dan saya senang melihat anda kembali ceria.”

“Yya Ok Jung-ah, kau memang orang kepercayaanku. Kau sangat tahu bagaimana diriku.”puji Jonghyun membuat namja di depannya hanya tersenyum. “Bagaimana dengan adikmu? Apa sudah ada laporan?”

“Ye tuan, Gi Young sudah melaporkan semuanya dan ia sedang menunggu nona Jiyeon bersiap.”

“Baiklah, kita jalankan rencana Sun Young dengan baik.”

“Ye.”

-oOo-

“Sudah siap?”tanya Sun Young saat melihat Jiyeon keluar dengan sweater berwarna baby pink dan juga rok motif bunga-bunga selutut dan juga sepatu boot senada dengan sweaternya.

“Hmm, Eonnie tidak mandi dulu?”

“Tidak usah, aku hanya ingin pergi ke suatu tempat saja.”

“Kita akan kemana Eonnie? Berbelanja?”

“Yya kita bahkan baru tiba satu jam lalu, mana mungkin kita berbelanja.”

“Jadi, kita akan kemana?”

“Gi Young-ah, kau tahu arah Volendam?”tanya Sun Young tanpa menjawab pertanyaan Jiyeon.

“Ne, saya tahu nona, apa nona ingin ke kota itu?”

“Apa jauh?”tanya Sun Young lagi.

“Anniya, jaraknya hanya sekitar 20 km dari pusat kota Amsterdam, jika nona mau..”

“Kajja, kita pergi ke Volendam.”ajak Sun Young langsung berjalan di depan Jiyeon dan juga Gi Young.

“Apa disana ada tempat untuk berbelanja?”tanya Jiyeon pada Gi Young.

“Di Volendam ada beberapa toko yang menjual pernak-pernik khas kota itu, ada juga studio foto yang menyewakan pakaian khas Volendam.”

“Ah, hanya toko pernak-pernik, semoga saja tidak membosankan.”

“Yya! Cepatlah, kita perlu berkeliling kota Volendam.”teriak Sun Young yang sudah sampai di depan mobil hitam yang tadi membawanya ke Hotel.

-oOo-

Jiyeon terkesima melihat pemandangan Volendam yang begitu indah, meski saat ini sudah memasuki musim panas, tapi kota itu tak kehilangan turis yang berdatangan. Matahari yang memancarkan panasnya tak membuat para turis itu enggan keluar rumah, justru hal itu dimanfaatkan oleh mereka. Mata Jiyeon dimanjakan oleh pemandangan pelabuhan yang ramai dengan para nelayan yang mengenakan pakaian khasnya, toko-toko yang berjejer rapih serta pemandangan pelabuhan yang indah.

“Woaah, jinja yeopo.”ujar Jiyeon penuh kagum.

“Sudah ku bilang kau akan suka nuansa desa nelayan ini.”

“Ne Eonnie, aku sangat suka! Disini benar-benar indah.”

“Kalau kau mengunjungi Volendam, kau harus berkeliling, karena kau akan menemukan hal-hal yang menarik.”

“Nona Sun Young benar.”

“Kalau begitu kajja kita berkeliling!”

Jiyeon, Sun Young dan juga Gi Young berjalan menyusuri jalanan kota Volendam, melihat-lihat bagaimana keindahan yang disuguhkan oleh kota yang sangat terkenal itu. sampai akhirnya Jiyeon menghentikan langkahnya, menatap dalam-dalam seseorang yang sangat ia kenal, tubuh Jiyeon bergetar sedetik kemudian air matanya mengalir deras.

Park Jiyeon pov

Aku melihatnya, aku yakin kalau aku melihatnya. Mataku terpaku pada seseorang dengan celana selutut berwarna cream dan kaus lengan panjang berwarna biru, namja itu memakai kaca mata berwarna hitam, tapi aku yakin kalau itu adalah dirinya. Rasanya ingin sekali aku berlari kemudian memeluknya, atau hanya sekedar menjeritkan namanya sehingga ia akan menoleh dan melihat keberadaanku. Keunde, kaki ini tak bisa bergerak, tenggorokan ini seolah tercekat. Yang kini aku rasakan hanyalah kekakuan dan rindu yang membuncah. Air mata ini terus mengalir deras, seisi kepalaku kosong, penglihatanku mengabur, menghilangkan orang-orang yang berlalu lalang. Yang kini ada dalam indera penglihatku hanyalah sosoknya, sosok namja yang sangat aku cintai.

Park Jiyeon pov end

Jiyeon berlari menerobos orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya. Mendorong beberapa turis sehingga mereka mengumpat ke arah gadis berambut coklat ini. Kakinya terus mengejar sosok namja yang ia kenal, namun matanya tak lagi melihat bayangan namja itu. Jiyeon memutar tubuhnya, mengedarkan pandangannya mencari sosok tampan itu, namun ia tak juga menemukan. Jiyeon kembali terjatuh, menangis tertahan karena kehadiran mendadak Lee Jonghyun.

“Tuan, apa tidak sebaiknya tuan menemui nona Jiyeon?”

“Anni Ok Jung-ah, aku tidak ingin mengacaukan rencana Sun Young.”

“Kalau begitu kita pergi dari sini?”tanya Ok Jung lagi.

“Tunggu sebentar, sampai Sun Young menemui Jiyeon, lalu kita pergi.”

“Ye tuan.”

“Beritahu Gi Young dimana Jiyeon.”

“Ye.”

-oOo-

Lee Jonghyun pov

Aku tersenyum senang, saat melihat sosok gadis yang sangat aku rindukan dua tahun ini sedang berjalan di depanku. Wajahnya semakin cantik, kulitnya semakin putih dan tubuhnya semakin tinggi. Rambut gadis itu tak lagi berwarna kuning, tapi sudah ia ubah menjadi warna coklat, ku fikir warna itu cocok untuknya. Jiyeon, tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, wajar saja kalau aku mencintainya sampai saat ini.

“Ikuti mobil mereka Ok Jung-ah.”ujarku pada Ok Jung.

“Ye tuan.”jawab Ok Jung lalu ia memberikan perintah pada si pengemudi kemudian mobil yang kami tumpangi berjalan mengikuti mobil yang di tumpangi oleh Jiyeon dan Sun Young.

Jantungku berdegub kencang saat ini dan aku yakin karena aku masih, ah ani, maksudku aku semakin mencintai Jiyeon. Aku mengirimkan pesan singkat untuk Sun Young, memberi tahu kalau aku kini sudah ada di belakang mereka.

Ketika sampai di daerah Volendam, aku melihat wajah Jiyeon yang begitu berseri-seri. Aku memakai penyamaranku lalu mengikuti mereka dari belakang.

“Woaah, jinja yeopo.”

Ku dengar Jiyeon berseru riang, dan itu membuatku ingin memeluknya, sungguh aku sangat merindukannya. Aku kembali mengikuti langkah kaki Jiyeon, berusaha menjaga jarak sedekat mungkin agar tidak kehilangan dirinya. Saat Jiyeon sedang mengunjungi sebuah toko, aku mempercepat langkahku untuk mendahuluinya, agar ia bisa melihatku nanti.

Tepat seperti yang sudah direncanakan, Jiyeon melihat ke arahku, tapi apa ini, kenapa dia menangis? Apa dia begitu membenciku? Tanpa fikir panjang aku langsung melangkahkan kakiku menjauh dan bersembunyi di balik sebuah bangunan. Aku memperhatikan Jiyeon dengan baik, ia menangis, sungguh aku merasa bersalah karena telah membuatnya menangis tapi ini semua demi rencana Sun Young.

Flashback on

“Mwo? Kenapa aku harus bersembunyi? Kenapa tidak menemuinya saja?”tanyaku saat Sun Young menghubungiku dua minggu lalu.

“Karena aku ingin menunjukkan bagaimana perasaan Jiyeon padamu.”

“Maksudmu?”

“Kau akan tahu saat kau melihat bagaimana Jiyeon. Turuti saja apa yang aku katakan.”

“Geure.”

Flashback off

“Jiyeon-na, wae? kenapa kau disini?”aku melihat Sun Young sudah berdiri di samping gadis itu, aku tahu, dia pasti diberitahu Gi Young – adik kandung dari Ok Jung – kalau keponakannya itu ada di ujung jalan sebelah selatan Volendam.

“Eonnie, aku melihatnya, aku melihatnya.”samar aku mendengar perkataan Jiyeon disela tangisnya.

“Bertemu siapa? Kenapa kau seperti ini.”

“Jonghyun, namja itu, aku melihatnya di seberang jalan sana, aku mencoba menghampirinya, aku mencoba mengikuti langkahnya, namun, dia menghilang.”jelas Jiyeon disela tangisnya.

Sun Young mengedarkan pandangannya, berusaha mencari apa yang dikatakan oleh Jiyeon, mata elangnya menangkap bayanganku serta Ok Jung di baling toko kue tak jauh dari mereka.

“Tidak ada Jonghyun, Yeonnie-ya, ku fikir kau berhalusinasi, yah, kau pasti berhalusinasi.”ujar Sun Young lalu mendekap tubuh keponakannya itu dan tersenyum ke arahku.

Aku bisa melihat tatapan haru dari dalam bola mata coklat Sun Young, seolah dia merasakan dengan jelas cinta Jiyeon untukku. Mataku menangkap maksud dari tatapannya, ia seolah berkata pergilah, Jiyeon akan baik-baik saja dibalik tatapan juga senyumannya. Dengan berat hati aku melangkah pergi, menjauh, sampai akhirnya tak bisa mendengar rintihan Jiyeon lagi.

Lee Jonghyun pov end

-oOo-

Jiyeon terbangun tepat pukul dua dini hari waktu Amsterdam, gadis ini merasakan ngilu luar biasa di sekujur tubuhnya, kepala pening luar biasa dan tenggorokan yang sakit. Dengan perlahan yeoja ini menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke pinggang, kemudian melangkah menuju balkon kamarnya di hotel megah itu. tangannya yang lentik terulur untuk mendorong pintu jendela kamar yang memisahkan balkon juga tempat tidur nyamannya. Matanya terpejam, merasakan angin malam yang berhembus sedikit kencang.

 

Park Jiyeon pov

Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana paras tampan yang dulu selau menjagaku, masih terukir dengan manis bagaimana semua sikapnya yang lembut terhadapku. Kemudian, masih juga terasa pilu di ulu hatiku saat namja yang aku cintai itu pergi menghilang karena kesalahanku, karena keterlambatanku menyadari cinta yang aku rasakan. Siang tadi, aku dan Sun Young Eonnie – yang sebenarnya adalah bibiku – melangkahkan kaki sepanjang jalan kota Volendam, salah satu kota terpadat di Belanda.

Awalnya aku enggan menuruti keingin Eonnie untuk menyambangi kota yang penuh dengan turis-turis itu, namun aku tak bisa menolak, mengingat aku hanya berdua dengan Eonnie di negara ini. Aku melangkahkan kakiku dengan riang ketika melihat pemandangan indah yang tertangkap oleh retina coklatku, senyum tak hentinya terlepas dari wajahku yang sedikit mengurus lantaran terlalu depresi karena kehilangan namja itu.

Aku memasuki toko demi toko kecil yang terjajar rapih sepanjang jalan, memperhatikan indahnya burung-burung yang berterbangan di atas pantai pelabuhan – yang aku sendiri tak tahu jenis burung apa yang menghiasi Langit biru disana – serta barisan kapal nelayan beserta pemiliknya yang semakin menambah keindahan kota kecil ini. Panasnya sengatan matahari siang ini tak membuatku lelah, namun tiba-tiba saja bola mataku terhenti pada sosok yang sangat aku cintai.

Aku menatapnya dalam diam, tubuhku menegang dan detik berikutnya aku kehilangan dirinya. Aku berusaha keras untuk mengejarnya, mencarinya sehingga aku bisa mendekap tubuhnya. Wajahnya yang tampan masih seperti dulu, hidungnya yang mancung, hanya saja.. hanya saja kini tubuhnya terlihat semakin atletis. Dari jarak sepuluh meter, aku bisa menghirup aroma khas tubuh Jonghyun. Sungguh, aku menyesal tak langsung memanggilnya saat mata ini menangkap sosok tampan itu. Kebohohanku ini membuat Jonghyun pergi lagi, untuk yang kedua kalinya, namja ini meninggalkanku dalam tangis.

Park Jiyeon pov end

-oOo-

Pagi-pagi sekali Sun Young sudah bersiap memakai pakaian formal, yeoja ini mengenakan setelan jas dengan rok dibawah lutut, paduan warna antara biru juga pink sangat muda membuatnya semakin terlihat dewasa. Sun Young melirik sekilas ke arah keponakannya yang sampai saat ini masih meringkuk di atas tempat tidur. Sun Young berjalan mendekat, berusaha membangunkan gadis cantik kesayangannya itu.

“Jiyeon-nie, ireona, rapat akan dimulai empat puluh lima menit lagi.”

“Sebentar Eonnie.”

“Kita sudah tidak punya waktu sayang, kau hanya punya tiga puluh menit waktu bersiap dan sisanya akan kita gunakan untuk sarapan. Cepat bersiap-siap, aku menunggu di Caffe Hotel.”ujar Sun Young membuat Jiyeon mau tak mau bangkit.

Setelah memastikan Jiyeon pergi membersihkan diri, Sun Young melangkahkan kaki keluar kamar hotel dan menuju tempat yang sudah ia janjikan akan bertemu dengan Jonghyun.

“Kau dimana?”tanya Sun Young melalui ponselnya.

“….”

“Ah ne, aku baru mau turun, kita bertemu di Caffe, kita jalankan rencana selanjutnya.”

TBC

Annyeong readers yang tersayang, aku berusaha secepat mungkin untuk membuat sequel dari Arrogant Girl dan jadilah FF ini. Awalnya aku mau buat one shoot, tapi aku takut malah kepanjangan dan membuat readers bosan, hehe. Untuk part keduanya kalian harus bersabar karena aku mau melanjutkan revenge terlebih dahulu, setelahnya baru aku membuat lanjutan FF ini, tapi tenang saja, FF ini hanya ada two shoot kok hehe. Aku harap kalian semua memberikan comment, karena semakin banyak comment yang masuk aku akan semakin mempercepat penyelesaian FF ini. Terima kasih untuk yang selalu mendukung! *bow*

Arrogant Girl Story Two

nyimasRDA - arrogant girl 2

 

intro 1

 

Title: Arrogant Girls

Author: nyimasRDA

Rating: G

Genre: romance, sad, friendship

Length: Chaptered

Main Cast:

– Park Jiyeon

– Lee Jonghyun

Other Cast:

– Kim HyunA

– Cho Kyuhyun

Note: cerita ini hanya hasil karanganku saya, cast yang aku pakai semua milik agensi masing-masing. Harap meninggalkan komentar di setiap FFku. Terima kasih.

-oOo-

Arrogance, that’s the only thing I can feel it. Arrogance that makes me fall in love. How can I’m in love with arrogant girl like her? Stupid boy! – Lee Jonghyun.

Her gaze like a eagles, the corner of her eyes like a sharp blade. But, she was girl who stole my heart. My girl, my first love. – Cho Kyuhyun.

-oOo-

Jiyeon berjalan gontai menuju kelasnya, entah mengapa semangatnya benar-benar hilang hari itu.

“Yya, apa kalian sudah dengar gosip tentang Cho Seonsaengnim dan Kim Hyuna?”ujar seseorang yang didengar oleh Jiyeon.

Jiyeon mengerutkan keningnya, ia memang sudah mendengar desas-desus tentang sahabatnya dan guru musiknya itu, tapi ia belum menanyakan langsung pada Hyuna.

“Park Jiyeon-ssi.”sapa seorang Sunbae membuat Jiyeon menghentikan langkahnya.

“Wae?”

“Apa itu benar?”tanya namja itu lagi.

“Mworagu? Kalau bertanya, jangan setengah-setengah begitu.”ketus Jiyeon.

“Kabar tentang Hyuna-ssi dan Cho Seonsaengnim? Apa itu benar? Mereka berkencan?”

“Museunsuriya?”

“Banyak gosip yang beredar di sekolah ini, dan juga, Hyuna-ssi tidak masuk sekolah sejak kejadian itu, jadi..”

“Yya Sunbae-nim, kau ini yeoja atau namja eoh?”

“Ye?”

“Apa yang kau bicarakan? Eoh? Gosip? Apa kau punya bukti mereka berkencan?”

“Anni, aku tidak punya bukti… keunde….”

“Kalau begitu hentikan omong kosong itu! Hyuna, sahabatku tidak berkencan dengan Kyuhyun-ssi, arraso?”

“Y-ye, arraso.”

“Neo, apa kau tahu bagaimana reputasiku di sekolah pertama, dulu?”

“Ye? Ah, ye, arra. Temanku bersekolah di Hannyoung High School.”

“Itu bukan hanya gosip, naega dangsin-eul jug-il su (aku bisa membunuhmu) jika kau menyebarkan gosip murahan itu lagi.”ujar Jiyeon lalu meninggalkan Sunbae nya itu.

Setelah memberikan ancaman pada sunbaenya, Jiyeon kembali melangkahkan kakinya menuju kelas. Memang benar, sudah tiga hari sejak kejadian Kyuhyun mengantar Hyuna ia tidak melihat sahabatnya itu dan waktu yang sama bagi Jiyeon untuk kehilangan pengawalnya.

“Hyuna-a, eodisseo?”bisik Jiyeon dalam hatinya.

Berkali-kali Jiyeon berusaha menghubungi Hyuna, tapi sahabatnya itu tak juga mengangkat telephonenya. Rasa khawatir mulai menyeruak kedalam diri Jiyeon, Hyuna tak pernah seperti ini, terlebih lagi, sahabatnya itu memang menaruh rasa pada Kyuhyun. Dengan langkah cepat gadis berambut pirang ini langsung mengambil tas punggungnya dan berlari ke arah luar kelas, membuat orang-orang menatapnya.

“Park Jiyeon-ssi, kau mau kemana? Kelas sudah akan dimulai.”teriak seorang guru berusaha menahan langkah Jiyeon.

“Mianhe Seonsaengnim, aku ada urusan!”teriak Jiyeon sebelum melesat bersama Audi A6.

Tak sampai tiga puluh menit, kini mobil berwarna silver kesayangan Jiyeon sudah terparkir manis di depan Galleria Foret, apartement mewah ditengah kota Seoul. Jiyeon menekan tombol lift berkali-kali, berharap pintu lift itu cepat terbuka.

“Park Jiyeon?”panggil sebuah suara membuat Jiyeon membalikkan tubuhnya. “Kau tidak sekolah?”

-oOo-

Saat ini Jiyeon sudah duduk di samping tempat tidur Hyuna, sahabatnya. Hyuna sudah tiga hari demam tinggi, dan selama itu juga Kyuhyun yang menjaganya. Jiyeon memandang wajah pucat sahabatnya itu dengan khawatir.

“Tenanglah, Hyuna akan segera sembuh.”ujar Kyuhyun berusaha menenangkan.

“Ye.”

“Yya, kau membolos sekolah? Aku bisa terkena masalah jika membiarkan muridku membolos.”

“Ei Oppa, kau bukan guruku saat ini, eoh? Kau adalah tetangga dari sahabatku.”

“Hmm, kau lebih dewasa berfikir dibanding sahabatmu, rupanya.”

“Keunde Oppa, ada sesuatu yang harus aku tanyakan.”

“Museun?”

“Apa kau dan Hyuna berkencan?”

“Yya Park Jiyeon! Apa yang kau tanyakan, eoh!”teriak sebuah suara mengejutkan keduanya.

“Hyuna, kau sudah sadar?”tanya Jiyeon langsung memandang Hyuna cemas.

“Ne, aku sudah sadar dan jelaskan apa yang kau tanyakan pada Cho Seonsaengnim?”tanya suara manja itu membuat Jiyeon tertawa.

“Wae? aku hanya bertanya bagaimana hubungan kalian, kalian tahu, gosip tentang hubungan kalina sudah menyebar keseluruh sekolah.”

“Jinjja? Apa separah itu?”tanya Hyuna bingung.

“Tenanglah, aku akan mengatasi masalah ini.”ujar Kyuhyun berusaha menenangkan Hyuna.

“Seonsaengnim, kau mau kemana?”

“Jiyeon-a, bisa aku meminta tolong padamu?”

“Ye Oppa, aku akan berusaha membantumu. Jadi, apa yang bisa aku lakukan?”

“Tolong jaga Hyuna sementara aku akan menyelesaikan masalah yang sudah aku timbulkan.”pinta Kyuhyun.

“Seonsaengnim! Eoddigawaseyo?”

“Aku akan bertanggung jawab, dengan semua yang sudah aku lakukan, aku akan bertanggung jawab.”ujar Kyuhyun kemudian.

Jiyeon memandang wajah pucat Hyuna, wajah cantik itu kini berwarna semakin pucat, bibirnya sedikit memutih dan Hyuna terlihat semakin kurus. Hal itu membuat Jiyeon merasa kasihan.

“Ahjuma, tidak menjagamu?”tanya Jiyeon pelan.

“Anni, Eomma sedang pergi ke Eropa, aku dengar ia sedang menemui Tae-Hee ahjuma.”

“Ah, untuk apa menemui Eomma ku?”

“Yya, mereka bersahabat, terlebih lagi Tae-Hee ahjuma adalah Kakak dari Appa, aku rasa wajar jika Eomma mengunjungi beliau.”ujar Hyuna.

Jiyeon dan Hyuna memang memiliki darah yang sama, Ibu Jiyeon merupakan Kakak kandung dari Ayah Hyuna, hal ini juga yang membuat keduanya bersahabat sangat lama, terlebih Kim Tae-Hee dan Lee Da-Hae juga merupakan sahabat.

“Yya, jangan bilang kalau kau mengadu pada ahjuma tentang perlakuan Eomma padaku?”tebak Jiyeon.

“Anni, aku tidak mengadu. Hanya saja…”

“Hanya saja apa?”

“Hanya saja aku menceritakan apa yang sebenarnya, Eomma bertanya padaku, jadi aku menjawabnya.”ujar Hyuna enteng.

“Aish, yya!”

“Wae?”

-oOo-

Jonghyun memandang sebuah rumah mewah dikawasan Seongbuk-dong, matanya memandang sayu rumah yang beberapa saat lalu menjadi tempat tinggalnya. Wajahnya menengadah, memandang ke arah sebuah ruangan yang ada di lantai dua.

“Lampunya belum menyala, apa Jiyeon belum pulang?”tanya Jonghyun dalam hatinya.

Cukup lama Jonghyun mengawasi rumah itu, sampai saat ia akan pergi, mata namja tampan ini menangkap sebuah mobil berwarna silver, mobil yang ia tahu adalah kepemilikan Jiyeon, yeoja yang ia cintai. Jonghyun tersenyum memandang sosok yang sudah tiga hari tidak ia temui itu, bayangan demi bayangan kembali hadir merasuki fikirannya, bagaimana ia mengajak Jiyeon pergi ke taman hiburan sampai saat ia kembali dan bertemu dengan Leeteuk, Appa Jiyeon.

Flashback on

“Jonghyun-ssi, kita perlu bicara.”ujar seorang pria berperawakan tampan, matanya memandang luruh ke arah seorang namja yang menjadi pengawal bagi putri kesayangannya.

“Ye tuan.”jawab namja yang dipanggil Jonghyun itu pelan, tubuhnya menunduk memberikan hormat pada si pembicara.

“Appa wae geure? Kenapa langsung ingin bicara dengan pengawalku?”tanya Jiyeon yang sedikit mencium gelagat aneh pada ayahnya.

“Anniya chagi, Appa hanya ingin menanyakan beberapa hal saja.”

“Geure, jangan lama-lama, aku akan menyiapkan makan malam untuk Appa.”

“Ne chagiya.”

Jiyeon berjalan menuju dapur, sementara Jonghyun mengikuti langkah Park Jung-Soo menuju ruang baca keluarga Park.

“Tuan Lee.”ujar Jung-Soo memulai pembicaraan.

“Ye tuan Park.”

“Apa kau tahu apa yang membuatku memanggilmu?”

Jonghyun terdiam, tak berniat menjawab pertanyaan Jung-Soo, ia benar-benar tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Ayah Jiyeon itu.

“Neo, bisa menjelaskan maksud dari foto-foto ini?”tanya Jung-Soo lagi, tangan kanannya melemparkan sebuah amplop berwarna kuning.

Jonghyun memandang wajah Jung-Soo bingung sementara Jung-Soo memberikan isyarat pada Jonghyun untuk membuka amplop itu. Jonghyun mengulurkan tangannya dan membukan amplop yang dilemparkan oleh Jung-Soo, matanya seketika membelalak ketika melihat beberapa gambar yang terpampang jelas di atas sebuah kertas.

Amplop itu berisikan beberapa foto, foto yang menampilkan Jiyeon. Di foto pertama, terlihat jelas seorang gadis dengan rambut panjang yang mengenakan dress hitam diatas lututnya tengah keluar dari sebuah mobil Bentley berwarna kuning, make up tipis di poles di wajah cantik gadis itu, pada lembar kedua, Jonghyun bisa melihat bagaimana si gadis itu sedang menegak sebuah minuman yang Jonghyun sendiri yakin kalau minuman itu merupakan minuman beralkohol. Lembar demi lembar Jonghyun lihat, foto-foto tersebut masih menampilkan sesosok yang sama tetapi dengan pakaian yang berbeda-beda. Sampai Jonghyun sampai pada lembaran yang terakhir, dimana dalam foto itu terlihat jelas bahwa si yeoja sedang duduk bersama seorang namja yang ia tahu adalah dirinya.

“Bisa jelaskan padaku, bagaimana bisa kau membiarkan putri bungsuku memasuki tempat-tempat terlarang itu?”tanya Jung-Soo lagi, kali ini Jonghyun mendengar sedikit kemarahan di dalam suara Jung-Soo.

“Igeo..”

“Lee Jonghyun-ssi, kau mengecewakan kepercayaanku!”

“Tuan Park….”

“Neo?! Bagaimana bisa kau mengatakan kalau kau mencintai Jiyeon sementara kau membiarkan gadis kecilku itu memasuki tempat-tempat hiburan malam!! Kau lihat di foto terakhir? Kau bahkan pergi bersamanya! Bagimana bisa….”

“Itu karena… karena Jiyeon merasa kesepian, selama ini, dia merasa tidak memiliki teman, hanya Hyuna yang ia punya dan ia mendatangi tempat-tempat itu untuk menghilangkan kesepiannya.”

“Jadi, kau mengatakan bahwa putriku yang manis itu pantas memasuki tempat-tempat itu dan itu aku yang bertanggung jawab atas semua ini?”

“A-anniya.”

“Lee Jonghyun-ssi, lebih baik jangan tunjukan lagi batang hidungmu di depanku dan jauhi anakku.”

“Tuan Park..”

“Aku tidak ingin lagi mendengar penjelasanmu, silahkan keluar dari rumah ini.”

Flashback off

-oOo-

Lee Jonghyun pov

Seharusnya aku tak datang ke Club Volume, seharusnya aku tidak perlu memenuhi undangan pesta pertunangan Yonghwa Hyung dan Shinhye, seharusnya aku tidak pernah bertemu denganmu, seharusnya aku tidak perlu mendatangi Ayahmu untuk meminta jadi pengawalmu, seharusnya aku tidak membiarkanmu memasuki lebih dalam dunia malam yang kejam itu, dan seharusnya… seharusnya aku tidak pernah mencintaimu. Kau tahu, Jiyeon, kau adalah yeoja yang sangat aku cintai, kau adalah cinta pertamaku, kau adalah yeoja pertanya yang mampu membuat hati ini bergetar. Aku masih sangat ingat bagaimana pertama kali aku melihatmu, bagaimana kau memandang diriku dan bagaimana awal pertama kali kita bertemu dan bagaimana kau menyebutkan namamu, sungguh, aku sangat mengingat saat itu, Jiyeon.

Aku tak pernah menyangka kalau hari itu akan menjadi hari terakhir kita bertemu. Aku masih sangat bagaimana kau memandang remeh diriku saat aku memuntahkan semua isi perutku ketika kita menaiki wahana Gyro Drop, aku sangat mengingat bagaimana teriakkanmu saat kita menaiki wahana French Revolution, aku begitu mengingat bagaimana matamu membesar karena terpesona ketika Baloon Sky membawa kita berkeliling, dan aku masih mengingat candaanmu saat kau asyik menggoda anak-anak kecil di wahana Ice Ring, dan senyummu yang begitu merekah saat selesai berkeliling, saat kita menyaksikan pertunjukan laser di Magic Castle, bagaimana wajahmu yang begitu riang itu, aku masih ingat.

Keunde, saat ini, disinilah aku, memandangmu dari jauh, memperhatikan setiap gerak-gerikmu. Jiyeon-a, apa kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu, jinjja. Kau percaya itu, kan? Mungkin kita memang tidak bisa bersatu, tapi ku mohon, ingatlah kalau aku selalu mencintaimu, akan selamanya mencintaimu. Jiyeon, yeoja yang sangat aku cintai, hiduplah dengan baik, disini, aku akan selalu mendoakan kebahagianmu. Saranghae, Park Jiyeon.

Lee Jonghyun pov end

 

“Tuan, apa kita akan tetap disini atau kau ingin aku mengantarmu ke rumah keluarga Park?”tanya sebuah suara menyadarkan Jonghyun dari lamunannya.

“Ah, Ok Jung-ah, tidak perlu, kita kembali ke rumah.”

“Ye tuan.”

-oOo-

 

Sudah hampir dua minggu sejak kepergian Jonghyun, dan sudah selama itu juga Jiyeon tidak menginjakkan kakinya di Club-Club kota Seoul. Keinginannya untuk menghilangkan penat dengan cara pergi ke Pub hilang sudah. Kini dirinya lebih senang menyendiri ataupun pergi ke pinggir sungai han, bersama atau tanpa sahabatnya.

“Jiyeon-a, eodisseo?”teriak seorang gadis saat memasuki kediaman keluarga Park.

“Yeogi Hyuna-a.”jawab Jiyeon pelan.

“Yya, apa kau sakit?”

Jiyeon mengalihkan pandangannya dari layar komputer yang menyala, memandang wajah Hyuna lalu tersenyum.

“Kau tahu, ini sudah minggu ke dua kau tidak mengunjungi Club malam, apa kau, sudah tidak ingin lagi pergi ke sana? Atau kau sudah ketahuan ahjussi?”tanya Hyuna lagi.

“Aku.. aku hanya malas.”

“Jinjja? Kau malas? Bukannya kau yang selalu mengajakku ke tempat-tempat itu? jadi, bagaimana bisa kau berkata malas.”

“Entahlah, aku memang malas. Ah, kau sudah makan malam?”

“Belum, justru aku kesini ingin meminta makan padamu.”

“Aish, yasudah kajja kita makan.”ajak Jiyeon.

Kedua gadis cantik ini kemudian berjalan menuruni tangga, melangkahkan kakinya menuju ruang makan yang terletak di samping kanan tangga. Tercium wewangian dari arah dapur dan diatas meja makan, sudah tersaji beberapa masakan yang mengundang selera.

“Jiyeon-a, sepertinya ada sesuatu yang kurang di rumahmu ini.”ujar Hyuna yang mengedarkan pandangan menyusuri setiap sudut rumah Jiyeon. “Keunde.. aku tidak tahu apa yang kurang, hanya saja… ah! Dimana Jonghyun Oppa? Aku tidak melihatnya sejak.. sejak dua minggu lalu.”lanjut Hyuna.

Jiyeon terdiam, gadis cantik ini mengentikan aktifitas makannya, ia benar-benar bingung harus menjawab apa. Jonghyun menghilang begitu saja tanpa mengatakan apapun, setelah ia bicara dengan Ayahnya dan Jiyeon jujur, ada perasaan hilang yang ia rasakan.

“Hyuna-a, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Wae? kau jatuh cinta dengan Jonghyun Oppa?”tebak Hyuna.

“Yya! Bukan begitu!”

“Lalu?”

“Aku ingin menemui Jonghyun.”

“Dimana? Apa kau tahu Oppa sekarang dimana?”

“Anni.”

“Yya!”

“Hanya… aku tahu tempat yang sepertinya ia kunjungi, atau tinggali.”

“Eh?”

“Temani aku!”

“Mwo?”

“Selesaikan makanmu! Kita akan pergi ke rumah Jonghyun.”

“Ei, kau tahu dimana Oppa tinggal? Jadi kau mulai mencintainya?”goda Hyuna.

“Anniya! aku… aku hanya sedikit merasa kehilangan dirinya.”

“Kau tahu Jiyeon, itu merupakan sebuah kabar yang baik. Kau kehilangan dirinya?”

Jiyeon terdiam, wajahnya sedikit memerah saat mendengar perkataan Hyuna.

-oOo-

“Samsung-dong?”tanya Hyuna terkejut saat melihat kawasan yang kini ia datangi.

“…”

“Apa Jonghyun Oppa bekerja disini?”

“….”

“Yya Park Jiyeon jawab aku!”

“Stt, kau lihat itu.”

“Mwo?! Kenapa Jonghyun Oppa keuar dari mobil itu? duduk dibelakang? Dibukakan pintu? Apa maksudnya ini?”

“Hari ini cukup sampai disini, besok, kita akan menemui dia disuatu tempat. Kau temani aku, ne?”

“Arraso, aku akan menemanimu.”

“Gomawo Hyuna-a.”

-oOo-

Esok harinya Hyuna dan Jiyeon sudah berada dalam mobil silver milik Jiyeon. Kedua gadis cantik itu menatap lurus sebuah gedung perusahaan yang sangat megah. Menit demi menit mereka menunggu, sampai kemudian Jiyeon melihat sebuah mobil yang sudah cukup ia kenal, mobil berwarna merah yang selalu ia tumpangi. Jiyeon memandang lurus mobil itu, berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya, setelahnya, gadis itu berjalan mengikuti langkah namja yang sudah ia kenal diikuti Hyuna dibelakangnya.

“Maaf nona, anda ingin bertemu siapa?”hadang seseorang saat Jiyeon sudah hampir memasuki sebuah ruangan.

“Bikyeoseo!”bentak Jiyeon.

“Tapi nona, anda tidak bisa sembarangan masuk ke ruangan ini.”

“Aku harus menemuinya!”

“Tuan Lee sibuk, nona, ia tidak bisa ditemui.”

“Mwo? Sibuk? Aku harus menemuinya!”

Jiyeon terus mendorong tubuh seseorang yang lebih mungil darinya, berusaha menerobos pintu yang bertuliskan ‘Persiden Direktur’ di permukaan pintu. Brak! Jiyeon membuka pintu dalam satu hentakan tangan, membuat dua orang yang ada di dalam menoleh ke arah datangnya suara.

“Maaf tuan, saya sudah meminta nona ini untuk pergi, keunde..”

“Omo! Yeoja yang pernah bertemu denganku! Keunde, bagaimana bisa ia kesini?”tanya seorang namja tinggi. “Hyung, apa kau mengenalnya?”

“Jungshin-a, kau bisa keluar sebentar?”tanya seseorang namja berkulit putih.

“Eoh?”

“Keluarlah sebentar, ada yang ingin aku bicarakan dengannya.”

“Geure, jangan terlalu lama, ne?”ujar Jungshin lalu melangkah pergi bersama sekertaris Jonghyun dan juga Hyuna.

“Hyuna, kau tetap disini.”ujar Jiyeon.

“Keunde Jiyeon, aku rasa, kau harus bicara berdua dengan Jonghyun Oppa.”

“Aku..”

“Aku tidak akan menyakitimu, Jiyeon-ssi.”ujar Jonghyun dengan nada dingin.

Hyuna berjalan meninggalkan Jiyeon dan Jonghyun.

“Silahkan duduk Jiyeon-ssi.”

“Tidak perlu.”

“Kalau begitu, apa yang ingin kau katakan?”

“Neo, bagaimana bisa kau berada disini?!”

“Nan? Aku pemilik tempat ini.”

“Mwo? Bukankah..”

“Aku hanya berpura-pura menjadi pengawalmu.”

“Begitu?”

“Ne, aku punya alasan khusus kenapa aku melakukan itu, aku…”

“Kau tidak perlu menjelaskan apapun, kau, menghilanglah dari hidupku.”ujar Jiyeon dingin.

“Jiyeon, aku..”

“Aku tidak ingin melihatmu lagi.”Jiyeon melangkahkan kakinya keluar, namun langkahnya terhenti saat Jonghyun menarik lengan gadis ini.

“Aku.. aku ada alasan melakukan semua ini, Jiyeon, aku..”

“Naga-yo (enyahlah).”Jiyeon menghempaskan tangan Jonghyun lalu berjalan keluar ruangan, membanting pintu dengan keras, meninggalkan Jonghyun yang menatap kepergian yeoja yang saangat dicintainya.

-oOo-

Jiyeon memandang langit malam yang begitu pekat, degub jantungnya masih berdetak cepat setelah ia melihat pemberitaan di televisi juga internet, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar dan lihat itu. namun, kini air matanya sudah mengalir deras. Bagaimana dia bisa dibohongi sedemikian rupa seperti ini.

Park Jiyeon pov

Aku menyeret kakiku dengan susah payah, mengambil kursi riasku dan meletakkannya di depan jendela kamar yang ku biarkan terbuka lebar. Aku menghempaskan tubuhku yang sudah terlalu letih pada kursi itu, memandang pekatnya malam tanpa memperdulikan angin musim gugur yang bisa saja membuatku sakit. Hamparan pepohonan terpampang jelas di depan mataku, Langit hitam tanpa bintangpun semakin melengkapi kelamnya malamku. Aku terdiam, memandang cakrawala hitam yang kini menemani setiap sakit yang aku rasakan dalam hatiku. Lee Jonghyun, bagaimana bisa namja itu bisa memasuki relung hatiku. Lee Jonghyun, bagaimana namja yang merupakan pengawal pribadiku adalah pemiling dari perusahaan besar samsung? Bagaimana bisa?

Kini aku mengusap air mataku, berusaha meredakan sakit. Fikiranku kembali merasuki bagaimana aku pertama kali bertemu Jonghyun, saat itu Appa memperkenalkan Jonghyun, namja yang akan jadi pengawal pribadiku, meski awalnya aku menolak, tapi Appa tetap memaksa.

Flashback on

“Jiyeon-a, eodiga?”teriak Appa yang membuat aku terbangun.

Aku melangkah dengan cepat menuju pintu utama, membuang kantukkku yang sudah bergelayut manja.

“Appa membawakan oleh-oleh banyak untukmu.”ujar Appa yang baru kembali dari perjalanan bisnisnya ke pulau Jeju.

“Woah, Appa, aku suka sekali ini.”ujarku kagum memandang sebuah kerang laut yang sedikit besar ukurannya.

“Kau suka?”

“Sangat suka.. keunde Appa, namja itu, nugunde?”

“Eh?”

“Igeo, namja yang sedang mengeluarkan kopermu.”

“Ah, igeo, namja yang akan bekerja dengan Appa.”

“Woah, tampan sekali. Supir baru Appa?”

“Anni, dia akan menjadi pengawal pribadimu.”

“Mwo?!”

“Jiyeon-a, Appa dan Eomma sering pergi keluar kota bahkan keluar negeri, jadi menurut Appa, ada baiknya Appa menyewa seorang body guard untuk menjagamu.”

“Keunde Appa..”

“Keputusan Appa sudah bulat sayang, tuan Lee akan bekerja sebagai pengawalmu, jadi kau tidak boleh membantah lagi, arraso?”

“Arraso.”

Flashback off

Ada sesuatu yang hilang dari diriku sejak kepergian Jonghyun, namja pembohong yang kini membuatku berantakan. Jonghyun, namja itu selalu memperhatikan aku, aku tahu, dari matanya, aku bisa melihat kalau dirinya sebenarnya mencintaiku, keunde, hati ini masih enggan menerima dirinya. Aku merasakan angin malam menusuk-nusuk permukaan kulitku, memaksa air mata yang baru saja mengalir seketika mengering karena sapuan angin. Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku perbuat?

Park Jiyeon pov end

-oOo-

Hyuna berjalan mondar-mandir di depan ruangan kepala sekolah, saat ini, dirinya sedang menunggu seseorang yang sudah merasuki hatinya, Kyuhyun. Sudah tiga puluh menit Kyuhyun menghadap kepala sekolah perihal masalah hubungannya dengan Hyuna. Hyuna benar-benar takut, ia tak ingin Kyuhyun mendapat cap jelek dari guru-guru dan juga murid sekolah apalagi sampai dipecat, bagaimanapun, alasan ia tetap mau bersekolah salah satunya adalah Kyuhyun.

“Kim Hyuna.”tegur seseorang membuat Hyuna membalik dan menatapnya.

“Ye Gyosunim.”jawab Hyuna gugup.

“Sedang apa kau disini?”

“Nan.. aku sedang..”

“Masuklah, ada yang perlu kita bicarakan.”ujar kepala sekolah lagi.

“Ye Gyosunim.”

Hyuna melangkahkan kakinya memasuki ruangan kepala sekolah, kepalanya terus tertunduk, kecemasan sudah melanda dirinya sejak satu jam terakhir dan kini ia harus berbicara dengan kepala sekolah dan Kyuhyun juga ada disana, hal ini membuat dirinya semakin panik.

“Hyuna.”panggil kepala sekolah.

“Ye Gyosunim.”

“Kau bisa duduk dulu, jangan terlalu tegang.”

“Ye.”Hyuna melangkah menuju soda yang disediakan di ruang kepala sekolah, kepalanya sedikit mendongak, kini mata Hyuna bisa melihat wajah santai Kyuhyun.

“Kau tahu kenapa aku memanggilmu?”tanya kepala sekolah.

“Ne? ah, ye Gyosunim, aku tahu.”

“Kalau begitu, apa kau punya pembelaan?”

“Jeosonghabnida Gyosunim, ini semua kesalahan saya, bukan kesalahan Cho Seonsaengnim. Saya yang meminta Seonsaengnim untuk mengantarkan saya ke sekolah, sebenarnya, saat itu Seonsaengnim tidak memiliki jam mengajar, keunde, karena saya yang meminta, jadi Seonsaengnim pergi mengantar saya.”

“Jadi, kau mengatakan kalau kau memaksa Seonsaengnim mengantarmu?”

“Ye?”kaget Hyuna. “Ah anniya, maksudku….”

“Jadi Seonsaengnim yang ingin mengantarmu?”

“….”

“Kau tahu akibat dari perbuatanmu ini?”

“….”

“Hyuna-ssi…”

“Gyosunim, aku mohon, jangan pecat Seonsaengnim. Ini semua kesalahanku. Biarkan Seonsaengnim tetap mengajar disini, aku yang akan keluar, aku akan berhenti sekolah disekolah Gyosunim, jebal, jangan pecat Seonsaengnim.”

“Mwo? Siapa yang akan memecat Cho Seonsaengnim?”tanya kepala sekolah bingung.

“Oh?”

“Hyuna-ya, paman Choi tidak akan memecatku.”

“Museun suriya?”

“Apa kau lupa kalau aku bisa mengajar di sekolah ini karena koneksiku?”

“Ne, aku ingat, lalu?”

“Hmm, kepala sekolah adalah pamanku.”ujar Kyuhyun yang membuat Hyuna tertegun. “Hmm jadi, kepala sekolah menikah dengan bibiku.”

Setelah menjelaskan semuanya pada Hyuna, akhirnya Kyuhyun dan yeoja bermata besar itu duduk bersama di atap sekolah. Hyuna menyesap susu vanilanya sementara Kyuhyun sibuk memandang yeoja itu.

“Jadi, Seonsaengnim tidak akan dipecat?”

“Anni, tapi aku akan tetap keluar dari sekolah ini.”

“Mworagu? Bukankah tapi Gyosunim mengatakan tidak akan memecatmu.”

“Memang benar, keunde…”Kyuhyun mengentikan ucapannya dan memandang Hyuna.

“Keunde wae?”

“Anniya, aku punya alasan sendiri untuk berhenti, lagipula aku hanya seorang guru pengganti, Jang Seonsaengnim sudah bisa mengajar lagi, jadi, menurutku lebih baik aku berhenti saja.”

“Wae? apa Seonsaengnim tidak senang mengajarku?”

“Anni, bukan itu alasanku.”

“Lalu?”

“Kalau aku tetap mengajar disini, aku tidak bisa menjadikanmu kekasihku.”jawan Kyuhyun sambil tersenyum manis.

“M-museun..”

“Kim Hyuna, saranghae.”ujar Kyuhyun lalu mengecup lembut kening Hyuna.

“Seonsaengnim….”

-oOo-

Seorang namja paruh baya berjalan dengan santai setelah keluar dari mobil mewahnya, namja itu mengenakan setelan jas berwarna abu-abu, tangan kanan namja ini menenteng sebuah tas kerjanya sementara tangan kirinya menenteng sebuah bungkusan berpita. Senyum merekah di wajah namja ini.

“Tuan Park, selamat datang kembali.”sambut seorang wanita berusia lebih tua darinya.

“Terima kasih bibi Baek, Jiyeon, eodi?”tanya namja ini dengan senyumnya yang khas.

“Nona Jiyeon sejak kemarin malam masih di kamarnya tuan, saya sudah berusaha untuk memanggilnya, tapi..”

“Apa dia kembali?”

“Ye?”

“Lee Jonghyun, apa namja itu menemui Jiyeon?”

“Anni, keunde, kemarin nona Jiyeon kembali dengan wajah yang sangat sedih, saat saya menyusulnya ke kamar, saya mendengar tangisan dari arah kamar nona Jiyeon.”

“Kalau begitu, tolong siapkan sup hangat, aku akan menemui Jiyeon.”ujar tuan Park pada pembantu rumah tangganya.

Park Jung-Soo melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, menuju kamar putri tunggalnya, Park Jiyeon. Tangan kanan Jung-Soo terulur, mengetuk perlahan permukaan pintu namun tak juga mendapat jawaban dari Jiyeon.

“Jiyeon-nie, apa kau di dalam?”tanya Jung-Soo pelan.

“….”

“Jiyeon-nie, gwaenchanha?”tanyanya lagi tapi tak juga mendapat jawaban dari Jiyeon.

Jung-Soo membuka pintu dan mendapati putrinya kini tengah meringkuk di dalam selimut birunya, dengan wajah khawatir Jung-Soo menghampiri Jiyeon, menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Jiyeon. Matanya Jung-Soo membelalak ketika melihat wajah cantik Jiyeon kini sudah berwarna pucat pasi, Jung-Soo mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Jiyeon.

“Jiyeon-nie, ireona, Jiyeon-nie.”

“Ngg.”erang Jiyeon.

“Gwaenchanha?””

“Appa, kapan kau pulang?”tanya Jiyeon dengan senyum yang ia paksakan.

“Jiyeon-nie, kau demam, apa kau sudah begini sejak semalam?”

“Appa, biar aku siapkan sarapan untukmu.”Jiyeon mencoba untuk bangun, namun kepalanya seolah berputar.

“Kita harus ke rumah sakit.”

“Anniya Appa, nan gwaenchanha.”

“Keunde..”

“Appa..”

“Tidak bisa, kita harus tetap ke rumah sakit.”ujar Jung-Soo lalu membopong Jiyeon.

-oOo-

Hyuna dan Kyuhyun berlari sepanjang koridor Seoul hospital, setelah mendengar kabar bahwa pagi ini Jiyeon akan di operasi, Hyuna lebih memilih untuk membolos sekolah, menunggu keadaan Jiyeon membaik.

“Ahjussi.”panggil Hyuna dengan nafas tersengal-sengal.

“Hyuna, kau datang.”

“Bagaimana keadaan Jiyeon?”

“Jiyeon.. anak itu menderita usus buntu dan harus segera di operasi, saat ini dia sedang ditangani.”

“Syukurlah jika Jiyeon sudah ditangani, keunde ahjussi..”

“Hmm?”

“Dua hari yang lalu, aku dan Jiyeon pergi ke kawasan Samsung-dong dan melihat Jonghyun opp, lalu kemarin kami pergi ke perusahaan Samsung dan…”

“Apa kalian bertemu dengan Jonghyun?”

“Ye?”

“Apa kalian bertemu dengannya? Lee Jonghyun?”

“Chankaman, apa yang sedang kalian bicarakan ini adalah Lee Jonghyun presiden direktur dari Samsung Electronics?”tanya Kyuhyun yang mendengar percakapan Hyuna dan Jung-Soo.

“Anniya, itu tidak mungkin, Seonsaengnim. Kemarin aku dan Jiyeon memang memasuki ruangan presiden direktur Samsung Electronics, tapi bukanlah Jonghyun Oppa yang ada disana, melainkan namja tinggi.”

“Hyuna-ya, Lee Jonghyun memang benar pemilik dari Samsung Electronics.”ujar Jung-Soo dengan suara tegasnya.

“M-mwo? Keunde, bukankah Jonghyun Oppa..”

“Jonghyun, memintaku untuk menerimanya menjadi pengawal Jiyeon.”

 

Flashback on

“Aku jatuh cinta dengan putrimu, tuan Park.”

Mueos-eul malhabnikka?”

“Ye, aku mencintai putrimu, Park Jiyeon.”

benar-benar jatuh cinta padanya, tuan.”ujarku berusaha meyakinkan.

“Lalu, apa yang kau inginkan? Menikahi putriku?”

“Anniya, aku tidak ingin memaksanya untuk menerimaku sebagai suaminya. Aku.. aku ingin menjadi pengawal pribadinya.”

“Mwo?”

“Ye, aku ingin menjadi seseorang yang selalu menjaga dan melindunginya, karena itu, izinkan aku menjadi pengawal pribadinya dan izinkan aku untuk membuatnya mampu menerima keadaanku juga mencintaiku secara alami.”

Flashback off

 

Hyuna terdiam mendengar cerita dari Jung-Soo, ia benar-benar tidak menyangka kalau Jonghyun yang ia kenal ternyata adalah pemilik perusahaan besar di Seoul.

“Pantas saja aku seperti pernah melihatnya.”lirih Hyuna.

“Hyuna, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”ujar Jung-Soo lalu mengajak Hyuna pergi ke suatu tempat.

“Ye ahjussi.”

Hyuna dan Jung-Soo sedang duduk di sebuah kafetaria yang disediakan oleh rumah sakit, keduanya hanya memesan sepiring makanan ringan dan juga air mineral.

“Apa yang ingin ahjussi tanyakan.”ujar Hyuna membuka suara.

“Apa Jonghyun mengajarkan pada Jiyeon untuk pergi ke club?”

“Ne?”

Jung-Soo menyerahkan beberapa lembar foto Jiyeon dan Hyuna yang sedang menikmati suasana di sejumlah club terkenal kota Seoul. Hyuna membesarkan matanya saat melihat sebuah foto yang menampilkan Jiyeon sedang menegak secangkir minuman beralkohol.

“Igeo..”

“Aku sudah tahu lama kalau kau dan Jiyeon sering mengunjungi club-club malam, sejujurnya aku kecewa padamu yang mau menemani putriku, keunde, dari informasi yang aku dapat, kau selalu mengajak Jiyeon untuk pulang cepat dan juga, kalau tidak ada dirimu, maka Jiyeon akan semakin tersesat di dunia malam. Hyuna, jawab pertanyaanku dengan jujur, apa Jonghyun yang menyuruh atau mengajarkan kalian untuk pergi ke tempat-tempat itu?”

-oOo-

 

“Ada berita apa tentang Jiyeon?”tanya seorang namja.

“Tuan Lee, pagi ini nona Park dibawa oleh Ayahnya pergi ke rumah sakit dan pagi ini juga nona Park menjalani operasi.”ujar supir pribadi Jonghyun.

“Lalu bagaimana keadaan Jiyeon?”

“Sampai saat saya mendapatkan informasi, nona Park sudah melewati masa operasi dan kini sedang mendapatkan perawatan intensif.”jelas Ok Jung. “Apa tuan ingin mengunjungi nona Park?”

“Anniya, aku tidak ingin membuat keadaannya semakin buruk. Kita pergi ke kantor.”

“Ye tuan.”

Jonghyun menyusuri lobby perusahaannya, sesekali namja ini menundukkan kepalanya saat ada beberapa karyawan yang sudah mengabdikan diri mereka untuk Samsung Electronics. Tak ada senyuman di wajah namja tampan ini.

“Tuan Lee, bisa kita bicara sebentar?”ujar seorang wanita cantik.

“Sun Young-ah…”

Jonghyun mengajak Park Sun Young untuk duduk di sebuah Caffe dekat perusahaannya. Namja tampan ini membawakan segelas vanila late dan juga sepiring biskuit sebagai teman mereka berbicang.

“Kau semakin terlihat tampan, tuan Lee.”

“Yya, kau ini, kapan kau kembali dari China?”tanya Jonghyun berbasa-basi.

“Baru pagi ini, Jonghyun-ah, sebenarnya apa yang terjadi antara dirimu dan juga Jung-Soo Oppa?”tanya Sun Young, adik kandung Park Jung-Soo.

“Tidak ada sesuatu yang terjadi antara aku dan juga tuan Park.”

“Aku sudah mendengar semuanya, Jonghyun-ah, Oppa sudah menceritakan semuanya. Wae? kenapa kau membiarkan Jiyeon pergi ke club malam?”

“Sun Young-ah..”

“Jelaskan padaku, mungkin saja aku bisa membantumu, mungkin aku bisa membuat Oppa memaafkanmu.”

“Tidak ada lagi yang harus dijelaskan, Sun Young.”

“Jiyeon, dia di operasi pagi tadi.”

“Aku sudah tahu.”

“Yeoja itu, tidak makan dengan baik dua minggu terakhir, waktu yang sama dengan kepergianmu.”

“….”

“Apa kau tidak ingin menemuinya?”

“….”

“Apa kau sudah tidak mencintainya?”

“Aku selalu mencintainya, tidak akan berubah Sun Young-ah.”

“Kalau begitu ceritakan padaku.”

-oOo-

 

“Oppa, kita harus bicara.”

“Hyomin-ah, ada apa? Apa keadaan perusahaan sedang kacau?”

“Ini bukan tentang perusahaan.”

“Lalu?”

“Jonghyun, Jonghyun tidak pernah menyuruh atau membiarkan bahkan mengajarkan Jiyeon untuk pergi ke club malam.”

“Museun suriya?”

Flashback on

“Kalau begitu ceritakan padaku.”

“Apa aku bisa mempercayaimu? Apa kau tidak akan menuduhku?”

“Anniya, aku tahu kau sangat mencintai keponakanku, jadi Jonghyun-ah, ceritakan semuanya.”

“Jiyeon, gadis itu sangat kesepian. Ia selalu sarapan sendiri dan makan malam sendiri. Semua ia lalui sendiri, nyonya Park tak pernah mengunjungi Jiyeon, sekalipun begitu juga dengan tuan Park. Suatu malam, aku bertemu dengan Jiyeon di Club Volume, saar itu aku sedang menghadiri acara pertunangan sahabatku. Aku melihat Jiyeon dengan wajah sedihnya sedang menegak minuman beralkohol. Aku tersenyum melihatnya, namun senyumanku hilang saat mendengar kalau dirinya masih bersekolah, aku terkejut dan bertanya-tanya bagaimana seorang siswi SMA bisa masuk ke sebuah Club malam. Singkat cerita aku menemui tuan Park untuk memintanya menjadikanku sebagia pengawal pribadi Jiyeon, aku juga mengatakan kalau aku mencintainya.”

“Ah, itu saat kau pertama kali pergi ke perusahaan kami, kan?”

“Ye, setelah melakukan perjanjian itu, aku mulai tinggal dengan Jiyeon, yeoja yang sangat aku cintai. Mulanya aku tidak melihat dan mengetahui bagaimana perasaan Jiyeon yang sesungguhnya, sampai pada satu malam aku mendengar Jiyeon menangis, sendiri. Aku melangkahkan kakiku mendekati pintu kamar Jiyeon, mendengarkan setiap perkataan yang ia ucapkan. Malam itu Jiyeon kembali mengunjungi club malam dan aku mengikutinya. Di dalam club malam itu, Jiyeon hanya duduk, menegak minuman pesanannya dan memandang lurus para pengunjung club itu. yang membuatku tersentak adalah, Jiyeon menangis, gadis itu menangis meski banyak orang disekitarnya. Dalam keadaan mabuk Jiyeon aku bawa kembali ke rumah, dalam perjalanan Jiyeon terus saja mengoceh, mengatakan kalau dirinya sangat kesepian dan hanya pergi ke tempat-tempat malam itulah yang membuat ia sedikit merasa tenang. Racauan demi racauan Jiyeon ucapkan, rintihan kecil berubah menjadi tangisan yang meledak-ledak dan tentu itu membuat aku semakin tersiksa, karena itulah aku mengizinkan Jiyeon untuk mengunjungi club-club malam, dengan catatan harus ada Hyuna yang menemani dan Ok Jung yang mengawasi mereka.”

“Jadi, kau tidak mengajarkan keponakanku itu hal-hal aneh? Jonghyun-ah, aku berjanji akan membersihkan namamu kembali, aku janji.

Flashback off

“Begitulah Oppa, jadi, apa kau masih mengeraskan hatimu? Bukan Jonghyun yang membuat Jiyeon seperti ini. Justru Jonghyun sangat memperhatikan Jiyeon, dan apa kau tidak juga mengerti kalau Jiyeon juga mencintai Jonghyun? Apa kau akan membakar habis kebahagiaan Jiyeon? Oppa, aku mohon, berikan kesempatan untuk Jonghyun, hanya dia namja yang benar-benar mencintai anakmu.”

-oOo-

Jonghyun memandang lurus sebuah paras cantik berselimutkan selimut tipis, bau khas rumah sakit menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya. Mata namja tampan ini sedikit berkaca-kaca melihat sosok yang ia cintai kini tergeletak tak berdaya, selang infus masuk menusuk kulit Jiyeon, membuat Jonghyun ikut merasakan nyeri di urat tangannya.

“Jiyeon-a, aku mohon, lekaslah sembuh.”lirih Jonghyun.

“Oppa.”panggil sebuah suara yang sudah sangat Jonghyun kenal. “Kau menangis?”

“Hyuna-a, kau disini.”

“Oppa wae geure? Kenapa kau menangis, eoh?”

“….”

“Oppa uljima, semua akan baik-baik saja Oppa, aku berjanji semua akan baik-baik saja.”

“Anniya, nan gwaenchanha Hyuna-a.”

“Oppa..”

“Lee Jonghyun-ssi, bisa kita bicara?”ujar Jung-Soo yang tiba-tiba sudah hadir di antara keduanya.

“Oppa tenanglah, aku sudah menjelaskan semuanya pada ahjussi.”bisik Hyuna saat Jonghyun melewatinya.

“Gomawo.”jawab Jonghyun.

Jung-Soo menatap lurus ke dalam mata Jonghyun, sementara Jonghyun mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain.

“Hyomin.”ujar Jung-Soo membuka suara. “Hyomin sudah menjelaskan semuanya padaku.”

Jonghyun mengalihkan pandangannya, matanya menyusup lurus, memandang sosok namja tampan di depannya.

“Aku minta maaf karena sudah menuduhmu melakukan hal yang tidak kau lakukan.”

Tak ada jawaban dari bibir Jonghyun, namja itu sibuk dengan fikirannya sendiri, saat Jung-Soo, Ayah Jiyeon sudah memaafkannya, kini Jiyeon lah yang paling membencinya.

“Neo, apa masih mencintai putriku?”

Jonghyun tersenyum mendengar pertanyaan tuan Park yang tanpa basa basi.

“Ne, aku masih sangat mencintai putrimu.”jawab Jonghyun.

“Kalau begitu, menikahlah dengannya.”

“Itu tidak mungkin, tuan Park.”

“Wae?”

“Jiyeon, sudah sangat membenciku, Jiyeon sudah tahu yang sebenarnya dan dia memintaku enyah.”

“Mwo?”

“Nan, tidak bisa hidup berdampingan dengan Jiyeon. Jiyeon tidak mungkin membiarkan pembohong sepertiku menjadi suaminya, tuan Park.”

“Keunde..”

“Aku tidak ingin memaksa Jiyeon untuk bisa mencintaiku, tidak bisa.”ujar Jonghyun dengan air mata berlinang. “Aku melepaskannya, aku membiarkan Jiyeon pergi. Terima kasih karena anda mau mempercayaiku, aku mohon diri.”ujar Jonghyun menyeka air matanya lalu meninggalkan tuan Park yang mematung memandang kepergian Jonghyun.

1 minggu kemudian

Jiyeon sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit, keadaan ususnya sudah membaik. Saat ini ia sudah duduk manis di atas mobil Bentley berwarna kuning milik Hyuna, wajahnya yang masih sedikit pucat tak menutupi paras cantiknya. Hyuna memarkirkan mobil kesayangannya dengan sembarang di depan pintu masuk kediaman keluarga Park, di dalam sana sudah menunggu Ayah dan juga Ibu Jiyeon.

“Jiyeon-na.”panggil seorang wanita paruh baya yang sangat Jiyeon rindukan.

“Eomma, kau datang.”

“Ye sayang, Eomma datang. Eomma sudah memasakkan makanan kesukaanmu.”ujar Tae-Hee.

“Gomawo Eomma.”

“Ye sayang. Ayo Hyuna-a, kita makan siang bersama.”

-oOo-

Jiyeon memasuki kamar tidur yang ia tinggalkan selama enam hari, matanya menyusuri setiap sudut ruangan yang cukup lama tidak ia lihat.

“Yya, baru satu minggu aku tinggal, rasanya sudah sangat merindukan tempat tidurku ini.”ujar Jiyeon sambil menyentuh tempat tidurnya.

“Jiyeon, Eomma ingin bicara.”ujar sebuah suara.

“Ye Eomma.”

“Mianhe.”ujar Tae-Hee pelan. “Mianhe, karena Eomma sudah membuatmu seperti ini. Andai saja Eomma tidak mementingkan karir Eomma, maka kau tidak perlu menjalani operasi, mianhe, jeongmal mianhe Jiyeon-na.”

“Eomma….”

“Eomma sangat menyayangimu, saat mendengar kau akan diopeari, Eomma langsung meninggalkna semua jadwal shooting Eomma, Eomma tak memikirkan apapun kecuali kesehatan dan keselamatanmu.”

“Keunde, kenapa Eomma tidak menemuiku di rumah sakit?”

“Igeo karena, Eomma malu. Eomma takut kau tidak mau menemui Eomma lagi.”

“Eomma, mana mungkin aku begitu, aku tidak mungkin tidak menemuimu, apa Eomma tahu bagaimana kau merindukanmu? Eomma, jangan berfikir macam-macam lagi.”ujar Jiyeon memeluk tubuh Tae-Hee erat.

“Kau tidak membenci Eomma?”

“Bagaimana bisa aku membenci orang yang sangat aku cintai, Eomma.”

“Gomawo Jiyeon-na, gomawo.”

“Ye.”

“Baiklah, kalau begitu, kau beristirahatlah.”ujar Tae-Hee sambil menyerahkan sebuah surat kabar dan sebuah amplop pada Jiyeon.

Aktris papan atas Kim Tae-Hee memutuskan meninggalkan dunia keartisan

“Eomma.”panggil Jiyeon saat membaca headline di surat kabar itu. “Igeo..”

“Ye sayang, Eomma sudah putuskan untuk meninggalkan semuanya.”

“Tapi Eomma, semua ini jerih payahmu, semua yang sangat berarti untukmu.”

“Apalagi yang lebih berarti dari putriku ini? Eomma melakukan semua ini untukmu chagi.”

“Eomma gomawo.”

“Sudahlah, kau harus beristirahat. Ah, itu, ada sebuah surat untukmu.”ujar Tae-Hee lalu meninggalkan Jiyeon.

Jiyeon memandang sebuah amplop berwarna biru dengan wajah bingung, di permukaan amplop tertulis jelas untuk siapa surat itu ditujukan.

“To my first love, Park Jiyeon.”ujar Jiyeon membaca tulisan di amplop itu. “Dari siapa ini, apa dari pengagum rahasiaku?”

Dear my princess, Park Jiyeon

Halo, apa kabar dirimu, Park Jiyeon-ssi? Aku berharap keadaanmu jauh lebih baik. Ini aku, Lee Jonghyun, si penipu yang sudah membuatmu marah kala itu. Jiyeon-nie, bolehkah aku memanggilmu dengan panggilan itu? Tanpa embel-embel nona di depannya? Ah, rasanya aku terlalu lancang untuk beramah tamah denganmu, mengingat apa yang sudah kulakukan kemarin dulu.

Park Jiyeon, gadis yang aku cintai, maafkan aku karena telah membohongimu. Mungkin kau tidak mengingat awal pertemuanmu denganku sama sekali, keunde aku, sangat mengingat saat itu. kau mengenakan sebuah celana berbahan kulit juga kemeja berwarna merah yang melekat ketat di tubuhmu, malam itu, di Dojo kau tengah diganggu dengan beberapa pemuda dan aku menyelamatkanmu, apa kau ingat? Tentu tidak. Sejak kejadian itu, wajahmu selalu membayang dibenakku, wajahmu selalu mengisi hari-hariku dan menemani tiap mimpiku. Aku menggombal? Mungkin.

Aku dengan lancang mendatangi Ayahmu, mengatakan kalau aku hendak mempersunting putri semata wayangnya, harta berharga miliknya, mungkin, aku sudah gila saat itu. Kemudian tuan Park Jung-Soo, Ayahmu mengizinkan aku untuk menjadi pengawal pribadimu, agar aku bisa mengenal dirimu lebih dalam dan agar aku bisa membuatmu mencintaiku, seperti aku yang tak bisa mengalihkan pandangan dari paras cantikmu.

Gadisku, Park Jiyeon, ah, rasanya seperti mimpi menyebutmu dengan kata-kata gadisku, Yah, mungkin hal-hal yang selama ini sudah kita lalui adalah sebuah mimpi, mimpi terindah untukku. Meski kau tak pernah memperlakukanku dengan baik, walau aku harus menerima setiap perkataan kasar dari bibir mungilmu dan aku yang mungkin tak pernah kau anggap, keunde, hal itu adalah hal yang paling berharga untuk hidupku, karena, karena aku bisa hidup berdekatan denganmu, menjagamu dari segala hal-hal yang mengancam keselamatanmu.

Keunde, ada hal yang tak pernah bisa aku lakukan, yaitu, aku tidak pernah bisa menghias paras cantikmu itu dengan senyuman. Aku tidak pernah bisa membuatmu tertawa, karena diriku. Aku justru selalu membuatmu marah. Tanganku ini tak pernah bisa menghapus air mata yang selalu kau keluarkan malam hari dan tubuh ini tak mungkin bisa mendekapmu, berusaha menenangkan hatimu yang gusar.

Kau tahu Jiyeon-nie, aku melakukan kesalahan fatal, kesalahan yang justru membuat semua yang sudah aku rencanakan berantakan. Malam itu, aku mendengar tangisan dari kamarmu, kau yang terlampau kesal mengendarai mobilmu menuju sebuah club malam. Aku mengikutimu dari belakang, menjagamu dari kejauhan dan menatapi bayanganmu yang asik menegak minuman, aku, begitu bodoh saat itu dan karena itu aku terus membiarkanmu memasuki dunia malam yang seharusnya tak pernah kau datangi.

Seandainya, aku tak pernah membiarkanmu melakukan itu, mungkin tuan Park tidak memintaku untuk menjauh, mungkin jati diriku tak terbongkar dengan cara itu, mungkin aku masih bisa menjagamu dan mungkin aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, mungkin. Jiyeon, mengenalmu dan menjatuhkan hatiku padamu adalah hal yang paling membahagiakan untukku, meski aku tak pernah bisa memilikimu.

Park Jiyeon, cintaku, aku mohon, jagalah dirimu, bahagiakanlah hatimu dengan atau tanpa aku. Ah, bicara apa aku ini, tentu kau akan tetap bahagia meski aku tidak ada disisimu. Maafkan aku yang telah lancang mencintaimu, maafkan aku karena dalam setiap doaku aku selalu menyelipkan permohonan atas kebahagiaanmu, maafkan aku. Saat kau membaca surat ini, aku sudah ada di bandara, menunggu keberangkatanku menuju London. Aku memilih untuk meninggalkan Seoul dan menetap di Inggris, hal ini aku lakukan untuk kebahagiaanmu. Aku mewujudkan permintaanmu, karena aku mencintaimu. tapi ku mohon, ingatlah, meski aku pergi, tapi aku akan terus mencintaimu, Park Jiyeon kecilku. Ah, aku mempunyai hadiah untukmu, sudah aku titipkan pada nyonya Baek, aku harap kau menyukainya. Saranghae, Jiyeon-nie.

Salam, pria yang selalu mencintaimu

Lee Jonghyun

 

Jiyeon memandang surat yang ia pegang, matanya sudah digenangi air mata. Bagaimana bisa ia merasakan sakit seperti ini dan bagaimana bisa Lee Jonghyun meninggalkannya setelah ia jatuh cinta pada pria itu. Jiyeon mengangkat sebelah tangannya, mendekap surat yang menjadi pernyataan cinta dari Jonghyun, air mata sudah mengalir deras di pipi putihnya.

“Nona, bolehkah saya masuk?”tanya sebuah suara membuyarkan lamunan Jiyeon. “Nona, wae geure? Ada apa?”

“Bibi…”Jiyeon menunjukkan sebuah surat kepada bibi Baek.

“Nona Jiyeon, igeo, tuan Jonghyun menitipkan ini untukmu.”

Jiyeon membuka sebuah kotak berbentuk hati, jantungnya seolah berhenti berdetak ketika matanya menangkap sebuah kalung dengan liontin berinisial JJ yang menghiasinya, rasa sesak semakin membuncah dalam hatinya. Jiyeon melirik ke arah jam dinding yang tergantung manis di depan tempat tidurnya, dengan cepat yeoja ini merampas kunci mobil yang tergeletak di atas meja riasnya dan berlari menuju garasi.

Jiyeon menerobos rombongan-rombongan orang yang kini sedang berdiri di bandara Incheon, matanya menyusuri setiap sudut bandara, berharap ia akan menangkap sosok Jonghyun yang sangat ia rindukan. Kini matanya sibuk membaca deretan jadwal keberangkatan yang terpampang di papan pengumunam. Jiyeon menangis histeris ketika melihat pesawat terakhir dengan tujuan London sudah lepas landas lima menit yang lalu.

“Lee Jonghyun! Aku mencintaimu..”lirih Jiyeon pelan.

End

Annyeong raders, aku ngebut ngerjain FF ini dan setelah aku fikir-fikir FF ini nggak jadi aku kasih PW, FF revenge chapter akhir aja yang akan aku lindungi, hehe mian kalau aku membatalkan. Harap kalian meninggalkan jejak. Terima kasih.